Minggu, 17 April 2011

Waness Perdamaian Kamumi

WANESS PERDAMAIAN KAMUMI

Oleh: Dra. Eulis Anggia Budiarti, M. Pd.

Guru SMAN 1 Jayapura Papua

K

amumi, janda Sawi yang terpaksa merelakan kepalanya digundul plontos duduk gelisah di atas tikar rumput yang tampak usang dimakan usia. Kamumi tidak peduli, ia duduk serius sambil mempermainkan awer rumput tua pembalut bagian bawah tubuhnya yang entah sudah tahun keberapa tidak digantinya. Sekali-kali terlihat matanya menatap kosong jauh ke luar tsjewi, dahinya berkerut seperti berpikir keras mempertimbangkan usulan pimpinan aipem kampung Sawi yang ditemani wow ipit dan kepala perang kepadanya beberapa hari lalu.

Dalam tsjewi tanpak topeng ifi tergeletak di sudut rumah seolah menatap Kamumi menuntut balas. Ocen dan Yemes yang diukir dengan motif tare, worotamo, far, tuwabok, dan vir kini tak bertuan. Semua selalu mengingatkan Kamumi pada suaminya Kagura.

Diangkatnya jepitan usang pengangkat sagu. Dibolak-balik saja sagu yang dipanggang di atas perapian jowse kendati telah cukup matang untuk diangkat, tampaknya ia masih segan untuk meletakkan sagu bakar di atas an. Dari cela-cela dinding tsjewi yang terbuat dari pelepah sagu, ia dapat melihat dengan jelas Wasio anaknya yang gempal bermiyak sedang asik bermain air di atas perahu yang tertambat di tepi sungai Kroket yang keruh. Sementara itu, pimpinan aipem dan dua pimpinan adat lain masih menanti jawabannya.

Kamumi dilanda gelisah yang amat sangat. Putusannya akan menentukan apakah perang suku yang telah melegenda di antara orang-orang Asmat akan diakhiri atau tidak. Ia akan menjadi pencipta legenda baru bagi orang-orang Sawi.

Kamumi meletakkan kembali jepitan kayu itu. Ia tidak pernah berhenti menyesali kematian Kagura suaminya beberapa tahun yang lalu. Kagura yang mati terbunuh karena penghianatan kaum Wasohwi. Kini, ia diminta untuk melakukan perdamaian dengan penduduk kampung yang telah menewaskan suaminya, yang telah membuat dirinya menjadi janda dan selalu harus melicinkan kepala. “Ah… rasanya tidak mungkin,” Kamumi menggumam dalam hati.

Bagi orang Sawi satu nyawa harus dibayar dengan nyawa. Tapi kini kenapa budaya waness berubah fungsi. Kenapa tiga tokoh adat itu memintanya untuk melakukan tuwi asonai man. Kamumi tidak habis mengerti mengapa ia harus melakukan waness seperti ini, disaat kematian Kagura belum terbalas. Pikirannya yang sederhana tidak dapat menerima perubahan yang tiba-tiba.

***

M

arjun menaiki tangga tsjewi pada pintu milik Kamumi dan duduk di tikar daun yang disediakan untuknya. Ia tampak terlihat ramping, kekar, gagah dengan otot-otot yang kencang. Kalung sudafen yang mengkilat dan gelang dari taring babi melingkar di tangan kanannya, menandakan pemakainya seorang yang ahli berburu, dan mahir bertarung. Tampak pula pisau dari tulang kaki burung piswa dan rahang carawan diselipkan di pangkal gelang tangan kirinya. Bipane dari kulit siput tampak menusuk sekat hidungnya. Marjun menghiasi badannya pula. Muka dan badan dicat dengan kapur putih dan merah, rambutnya diberi bulu-bulu burung, kepalanya diberi kulit kuskus.

Marjun menjadi incaran gadis-gadis belia di kampung Sawi. Semua ibu-ibu di Sawi berharap dapat bermenantukan Marjun. Namun, hanya anak gadis Kamumi lah yang dipilih Marjun. Tentu betapa bangganya Kamumi ketika lamarannya untuk Wasio diterima Marjun. Kini Marjun adalah menantunya yang hidup dalam satu jowse dan satu tsjewi dengan Kamumi. Sesuai dengan sistem kekerabatan suku Asmat . Adat telah mengatur, setelah menikah Marjun berada dalam keluarga Wasio. Perkawinan Wasio dan Marjun diatur orang tua mereka. Peminangan dilakukan kerabat pihak Wasio.

Tiga tokoh adat kaum Sawi duduk di hadapan Marjun untuk mengikat perhatian Marjun. Sementara itu, Kamumi tua, jongkok di depan perapian jowse, sibuk membolak balik sagu panggang. Dekat kaki Kamumi terdapat sagu-sagu yang telah matang dipangggang masih terasa hangat di tangan.

Dibawanya sagu-sagu panggang itu untuk disajikan. Ia jongkok di belakang Marjun. Dengan gerakan yang cepat disentuhkannya sagu bakar ke bagian alat vital Marjun sambil berteriak, “Waness….” Suara Kamumi terdengar gemetar menahan rasa.

Kamumi segera melompat mundur menyingkir dari Marjun, kemudia ia berlutut di hadapat Marjun, dan mengangkat sagu panggang itu ke bibirnya, sambil berkata lantang, “Waness….waness.” Digigitnya sagu itu sebagai lambang budaya waness telah diberlakukan Kamumi pada Marjun.

Mata Marjun yang tajam terbelalak kaget melihat Kamumi menggigit sagu panggang itu. Tubuhnya tiba-tiba terasa mengeras bagai binatang buas yang kena perangkap. Kamumi mertua telah menjebaknya dalam ikatan budaya Sawi.

Melalui tindakan nekad itu Kamumi telah mengubah arah nasib Marjun ke jurusan yang masih asing bagi Marjun juga Kamumi sendiri.Tidak ada pilihan lain bagi Kamumi selain mematuhi perintah ketiga tua adat kampung Sawi yang terus-terus datang memaksanya.

*****

“K

amumi, Tuan pemburu buaya akan datang ke kampung Sawi. Menurut cerita kampung lain, Tuan pemburu buaya memiliki banyak benda-benda aneh yang akan dibagikan kepada kita. Tapi Tuan pemburu buaya tidak menyukai peperangan.” panjang lebar pimpinan aipem kampung Sawi menjelaskan. Kemudian, “Tuan pemburu buaya suka damai…. damai...begitu katanya. Kita harus membuat perdamaian. Perang itu tidak baik.”

“Kudengar Marjun telah menyusun rencana untuk melakukan pembalasan atas terbunuhnya Kagura. Kami bukannya sudah melupakan Kagura. Tentu saja kami masih ikut berduka.” tokoh perang suku Sawi yang harismatik melanjutkan.

“Kamumi, kamu tentunya juga sudah tahu dari cerita orang-orang di kampung sebelah, benda-benda yang dibawa Tuan pemburu buaya. Ada pisau dan kapak yang sangat tajam. Ada kayu yang dapat mengeluarkan api tanpa harus digosok keras-keras. Ada lagi yang namanya cermin. Benda itu bisa memperlihatkan wajah kita lebih jelas dari air sungai Kroket.”

“Nah, Kamumi cegalah menantumu itu agar membatalkan rencana penyerangan ke kampung Wasohwi. Kita lakukan perdamaian dengan menyerahkan anak perdamaian. Kita percikan air sejuk antara kita dan kaum Wasohwi. Begitu perintah Tuan pemburu buaya kepada kami,” lanjut pimpinan aipem.

“Apakah Marjun harus menyerahkan anaknya? Dalam perkawinan mereka, mereka belum memiliki keturunan.” Kamumi menjawab kuatir.

“Bukan-bukan itu. ketua perang siap menyerahkan anaknya untuk perdamaian, asal Marjun mengurungkan niatnya. Nanti, kamu akan dapat pisau, cermin dan korek api dari Tuan pemburu buaya. Oh yah, ada juga yang disebut senter yang dapat menerangi kita waktu malam hari.” kata pimpinan aipem membujuk Kamumi.

“Kamumi, aku siap menyerahkan anakku yang kecil sebagai tanda perdamaian dengan kaum Wasohwi. Bagaimana dengan kamu? Kamumi, kamu harus bisa membujuk Marjun.” kepala perang memintanya dengan tegas. Hanya wo ipit yang diam membisu, pikirannya melayang entah kemana. “Tak ada patung embis yang harus kuukir, dan tak ada lagi pesta ulat sagu,” gumamnya dalam hati.

*****

S

edemikian besar kesan pertemuan pertama pemimpin aipem kampung Sawi, kepala perang dan masyarakat Sawi dengan perahu motor patroli Belanda yang melewati sungai Kroket membawa Tuan pemburu buaya yang telah membagi-bagikan senter, garam dan tembakau sebagai alat kontak. Mereka melewati kampung Sawi, sehingga menjadi bahan percakapan hangat selama berminggu-minggu. Hampir semua orang Sawi membicarakannya. Tidak lama kemudian, kampung-kampung itu mendengar desas-desus bahwa patroli yang sama telah mendirikan pos pemerintahan di tengah-tengah suku Asmat di Pirimapun. Bahkan Marjun pun lupa akan rencana pembalasan dendamnya terhadap orang yang dianggap musuh-musuhnya. Tetapi tidak lama. Ingatan mengenai kedua perahu besar itu mulai pudar. Kerinduan untuk membalas dendam kembali menjadi cita-cita utamanya.

Marjun mengundang Maum, Yosin, dan Kaimu ke rumahnya. Ia mengisi pipanya penuh dengan tembakau, lalu menyalakannya, kemudian mengedarkannya kepada teman-temannya. Itulah cara mengikat persahabatan di antara mereka. Sementara asap tembakau yang bau semerbak memenuhi seluruh yeu. Marjun mulai mengutarakan pikirannya.

“Rupanya Tuan pemburu buaya sudah berada di antara kita, tapi kita belum membalas kematian bapak Kagura. Bagaimana perasaan kalian?’

Teman-temannya membisu dengan perasaan malu karena telah melupakan kewajiban itu selama ini.

Marjun kembali berkata, “Mungkin kalian telah lama melupakan bapak Kagura, tetapi aku tidak dapat melupakannya. Menurut pendapatku, kita harus membalaskan dendamnya, meskipun Tuan pemburu buaya sudah datang!”

Marjun mengisap pipanya, sementara ketiga temannya memperhatikan wajahnya. “Apakah engkau menghendaki kita merampok daerah Wasohwi lagi?” Tanya Maum. “Ah, itu sudah sering kita usahakan,” jawab Marjun. “Aku mempunyai cara yang lebih baik lagi.”

Kaimu lah yang pertama menyambut, “Ceritakanlah rencana itu kepada kami, kakak!”

Marjun menunjuk dengan pipanya ke arah Selatan ke arah kampung Sawi yang disebut Kangae. “Orang-orang Kangae,” katanya pelan-pelan. “masih bersaudara dengan para pembunuh bapak Kagura. Bahkan mereka mempunyai beberapa teman di antara penduduk ujung kampung kita. Bukankah itu membuka jalan bagi kita?”

Ketiga pendengarnya tersenyum licik menanggapi ke mana arah pikiran yang sudah jelas itu, tetapi kemudian Yosin dengan mengernyitkan dahinya bertanya, “bagaimana caranya kita menyuruh mereka datang?’

“Kita akan mengumumkan suatu pesta tari-tarian semalam suntuk dan mengirimkan undangan kepada mereka,” jawab Marjun enteng.

“Tetapi siapakah yang akan membawa undangan itu kepada mereka? Memang orang kaum Kangae berteman dengan orang Wasohwi, tetapi mereka tidak biasa berkunjung ke sana. Lagipula pasti mereka menolak untuk bekerja sama dalam hal ini!”

“Saudara-saudara kita dari kaum Kangae tidak boleh mengetahui sesuatu tentang hal ini!” kata Marjun dengan tegas. “Kita harus membiarkan mereka menyangka ini undangan yang sungguh-sungguh. Jika mereka sudah melihat mayat kawan-kawan mereka dari Wasohwi tergolek, mereka akan mengerti sendiri.”

“Lalu siapa yang akan pergi untuk mengundang orang-orang yang kita incar itu datang kepada kita?” tanya Yosin penuh selidik.

“Kamu lupa.” Kata Marjun lambat-lambat, “Seorang anggota keluarga kita mempunyai ikatan kekeluargaan dengan Warsohwi melalui ibunya, sehingga ia bebas kekeluargaan dengan Warsohwi melalui ibunya, sehingga ia bebas berkunjung ke sana?”

Ketiga pendengarnya bersuit keheranan. “Pasti yang kau maksud itu Kiten,” seru Maum, “Bagaimana mungkin kamu membujuk dia untuk menghianati kerabat ibunya sendiri?”

Marjun telah siap dengan jawaban yang telah direncanakan lama sebelumnya. “Memang tidak ada jalan untuk membujuk Kiten melakukan hal ini,” katanya secara terus-terang, lalu ditambahkannya secara berbisik-bisik, “tetapi ada jalan untuk memaksa dia.” Setelah hening sejenak, ia melanjutkan. “Seseorang harus mengenakan ikatan waness kepadanya. Maka ia akan melakukan apa yang kita kehendaki.”

Para pendengar terbelalak karena kagum, kemudian bersuit tanda kagum. Pernahkan seseorang mengusulkan tentang itu? Yaitu menggunakan adat kuno, waness, untuk memaksa seseorang menghianati kerabat ibunya sendiri?

Maun, Kaimu, dan Yosin menyadari bahwa Marjun sedang memperkembangkan adat penghianatan yang kuat pada orang Sawi itu secara halus sekali, melebihi karya nenek moyang mereka yang paling pandai sekalipun. Ini berarti Marjun menjadi pencipta legenda yang ulung dan sekarang mereka diikutsertakan untuk mewujudkan legenda baru itu.

Ketiga orang itu begitu terpukau oleh keunikan usulan Marjun, meskipun keunikannya sangat tergantung pada hasil rencana ini. Memang sudah lama berselang sejak Mauro dari kaum Warsohwi mengalahkan kaum Haenam secara menyedihkan, memanah Kagura serta memakan ketiga temannya. Mungkin orang Wasohwi sendiri sudah lama melupakan kejadian tersebut. Kalaupun belum, mereka tidak akan meyangka bahwa kerabat Kagura masih ingin membalas dendam terhadap Mauro melalui persekutuan gelap melawan Wasohwi. Mereka merasa pasti bahwa teman-teman mereka dari kaun Kangae di Haenam akan memberitahukan tiap bahaya yang mengancam orang Wasohwi. Dan di daerah Haenam dapat mengandalkan Kiten sebagai pelindung mereka. Pasti mereka akan menerima undangan yang disampaikan oleh Kiten secara pribadi. Tidak ada sesuatupun dalam legenda orang Sawi yang mempertimbangkan akan kemungkinan seseorang menghianatai kerabat ibunya sendiri.

Usul utama rencana ini ialah menggunakan adat kuno, waness, untuk memaksa Kiten memberikan bantuannya. Ketiga pendukung itu ingin sekali mengetahui gagasan Marjun bagaimana ia akan melaksanakan ini sebaik-baiknya.

“Kakak ceritakanlah kepada kami, siapakah di antara kami kau rencanakan untuk mengenakan ikanan waness kepada Kiten?” Maum bertanya penasaran dengan rencana Marjun.

Marjun tersenyum bangga, karena mudah sekali mereka masuk ke dalam perangkapnya. Kini Marjun menguasai sepenuhnya perhatian mereka. Dengan hati-hati dan berbisik-bisik ia menjelaskan semua rencananya.

***

N

amun kini, Kamumi telah begitu merendahkan diri di hadapan Marjun dengan memakan sagu panggang yang telah tersentuh alat vital Marjun dan sekaligus melepas budi yang sangat besar kepada Marjun. Apalagi ia mertuanya. Betapa gusarnya Marjun, rencana yang disusun beserta ketiga temannya telah didahului Kamumi kepada dirinya sendiri.

Hanya ada satu cara bagai Marjun untuk membalas budi Kamumi, ia harus melakukan apa saja yang diinginkan Kamumi apapun resikonya. Jika tidak Kamumi akan menanggung malu selama-lamanya. Secara adat, masyarakat akan merasa terhina oleh Marjun. Tentu Kamumi punya permintaan yang luar biasa sehingga menggunakan waness untuk mencapai tujuannya.

“Apa yang ibu kehendaki?” Marjun bertanya dengan wajah lesu.”

“Lakukanlah perdamaian dengan kampung sebelah!” jawab Kamumi tua tidak kalah lesunya.

“Apa ibu?” Marjun merasa tidak percaya dengan pendengarannya. “Apa yang ibu minta barusan?” tanyanya sekali lagi.

“Lakukanlah perdamaian dengan kampung sebelah!” Kamumi mengulang jawaban dengan dingin.

“Ibu… apakah ibu tidak salah bicara… apakah ibu sudah lupa dengan kematian bapak Kagura,” suara Marjun meninggi tetapi masih cara yang sopan. Ia kembali berkata, “Ibu sudah lupa kalau kepala ibu masih dicukur habis? Kita harus melakukan pembalasan ibu… pembalasan bukan perdamaian. Arwah bapak Kagura masih menunggu disempurnakan untuk menuju alam safar. Kita harus melakukan pengayauan untuk menyempurnakan arwah bapak.” Marjun terengah-engah menahan amarah dan emosi yang meluap saat mengenang kematian mertuanya Kagura ditombak Mauro dari kaum Warsohwi.

“Ibu lihatlah! Topeng ifi sudah aku buat dengan sempurna, wo ipit pun telah membuatkan patung arwah” Marjun menunjuk topeng yang tergeletak di sudut tsjewi, di samping topeng ifi tergeletak patung yang mirip wajah Kagura yang menonjolkan tsjemen lambang keberanian dan pembunuh musuh.

“Ibu Kamumi, roh-roh nenek moyang menanti kita menuntut balas. Roh-roh yi-ow di hutan sagu, danau dan sungai akan murka. Kita akan kehilangan ikan-ikan dan binatang buruan. Roh ozbopan pasti mengutuk keluarga kita,” sesak dada Marjun mengingat mertuanya telah gegabah mengambil putusan.

Kamumi menunduk dalam-dalam, tetes air matanya membasahi pipi keriput dimakan usia. Ia usap perlahan dengan tangan kanan kasar dan hitam oleh arang. Tentu ia tidak akan pernah melupakan peristiwa memilukan saat suaminya merangkak menaiki anak tangga rumahnya dengan panah tertancap dipunggung. Sambil mengerang kesakitan, Kagura berusaha menaiki anak-anak tangga rumah yang berjumlah 20 titian. Rupanya Kagura berhasil melarikan diri dari kejaran musuh dengan kondisi terluka parah. Walau akhirnya, Kagura meregang nyawa di depan pintu tsjewi. Kagura meninggal kehabisan darah yang terus menyembur dari luka-lukanya.

Kamumi dilanda keraguan yang menyesakan dada, menghentak-hentak naluri seorang istri, darahnya terasa mengalir deras menuju jantung lewat urat-urat syarafnya. Ditatapnya patung arwah Kagura yang belum sempurna menuntut balas. Perlu ia sempurnakan dengan kepala musuh yang terkayau, perlu disempurnakan dengan darah musuh. Badannya menggigil hebat menahan semua perasaan yang entah apa. Kamumi tidak sanggup menerjemahkannya. Pikirannya terlalu amat sederhana.

Waness … aku telah melepas budi padamu Marjun.” Katanya melemah dan semua menjadi terang. Ia tidak ingat apa yang telah ia katakan. Kamumi tidak menyadari kalau dia lah pencipta perubahan dan pencipta legenda baru di Sawi.

*****

Keterangan:

Kaum Sawi : salah satu bagian dari suku Asmat di sekitar Firimapu, yang memiliki budaya kanibalisme dengan mengayau musuh-musuhnya. Mereka memiliki filsafat digemukan untuk dikayau.

Budaya ini telah hilang sejak munculnya para zending dan misionaris yang mereka sebut Tuan-tuan sekitar tahun 1960-an.

Waness : adat orang Sawi untuk memaksa kerabatnya melakukan apapun dengan cara merendahkan diri.

Caranya, memakan sagu bakar yang telah ditempelkan kepada alat kelamin orang tersebut.

Tuwi asonai man: Pemaksaan kehendak melalui waness

Sudafen : Kalung dari taring babi, yang menjadi ciri khas bahwa pemakainya seorang pemburu ulung.

Boyir : perapian milik klen yang biasanya berada di tengah-tengah rumah jeu yang memisahkan Sawi hilir dan Sawi Udik.

Jeu : Rumah panjang yang dibuat untuk laki-laki. Disebut juga rumah bujang tempat laki-laki Asmat berkumpul merencanakan peperangan dan perdamaian.

Setiap kaum atau klean di Asmat memiliki rumah jeu sendiri-sendiri yang dibangun di tepi sungai.

Pemimpin aipem: pimpinan kampong

Wow ipits : seniman pemahat patung

Po : sayung

Ocen : tombak

Yemes : perisai

An : nampan yang terbuat dari daun sagu

Ifi : topeng keluarga tempat roh bersemayam

Tere : motif ukiran kelelawar

Worotamo : motif ukiran pohon beringin

Far : motif kupu-kupu

Vir : motif tali perut ikan

Tsjemen : alat vital laki-laki pada patung roh nenek moyang

Awer : pakaian wanita yang berbentuk rok terbuat dari rumput

Tsjewi : rumah tempat tinggal keluarga batih. Rumah keluarga yang biasanya didiami oleh satu keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, seorang atau beberapa orang istri, dan anak-anak mereka. Setiap istri memiliki dapur, pintu dan tangga sendiri.

Jowse : perapian pusat dalam kelompok kecil

Bipane : hiasan hidung yang menembus sekat hidung yang terbuat dari dari babi atau siput.

Piswa : pisau dari tulang kaki kasuari

Carawan : pisau yang terbuat dari rahang buaya

Yi-ow : roh penjaga hutan-hutan sagu, danau-danau dan sungai-sungai yang penuh ikan dan hutan-hutan yang penuh binatang buruan.

Ozbopan : roh penghuni beberapa jenis pohon tertentu, gua-gua yang dalam, batu-batu besar yang mempunyai bentuk khusus.

Menulis Cerpen dengan Metode Copy The Master

MENULIS CERPEN DENGAN METODE COPY THE MASTER

Oleh: Dra. Eulis Anggia Budiarti, M. Pd.

1. Pendahuluan

Menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan menjadi sebuah susunan karangan. Sebuah hasil tulisan berbanding lurus dengan logika dan kecerdasan penulis. Seorang yang memiliki alur berpikir yang runtun dan logis, maka akan tercermin dalam tulisannya.

Menurut Akhadiah (1986: 1.1) menulis merupakan suatu proses yang dilakukan oleh penulis untuk menyampaikan gagasannya melalui media tulisan. Menulis atau lazim juga disebut mengarang merupakan kegiatan yang sekaligus menuntut beberapa kemampuan. Karena ketika menulis, kita harus memiliki pengetahuan tentang apa yang akan ditulis juga pengetahuan bagaimana menuliskannya. Pengetahuan pertama menyangkut isi karangan sedang yang kedua menyangkut aspek-aspek kebahasaan dan teknik penuliskan. Baik isi karangan, aspek kebahasaan, maupun teknik penulisannya bertalian erat dengan proses berpikir.

Membiasakan menulis untuk kalangan remaja terutama mahasiswa menjadi sangat penting, karena selain sebagai upaya mengasah kemampuan intelektualnya. Lebih dari itu, karena bahan bakar menulis itu membaca, bagi remaja yang telah terbiasa menulis akan senantiasa merasa haus untuk membaca dan membaca lagi. Dengan banyak membaca dipastikan pengetahuan akan bertambah sehingga diharapkan para remaja akan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ismail (2003) kesulitan siswa menulis berbanding lurus dengan kebiasaan siswa yang sedikit membaca. Kegemaran membaca yang mulai dipupuk melalui buku sastra pada akhirnya mendorong siswa menghasilkan tulisan.

Menulis akan menjadi mudah dan menyenangkan jika sudah timbul motivasi dari diri sendiri. Pelajaran menulis tidak menjadikan mahasiswa menjadi penulis. Namun, ketrampilan yang dimiliki siswa diharapkan dapat bergunan dikemudian hari. Karena pada kenyataannya banyak orang yang hidup dengan menggantungkan diri pada hasil tulisan.

Cerpen bisa didefinisikan sebagai sebuah cerita yang formatnya sangat singkat, dan berisi penggalan cerita tertentu. Cerpen adalah karya fiksi. Maksudnya, cerita yang terkandung di dalamnya bukan kisah nyata.

Jadi jika anda menulis sebuah cerita yang merupakan pengalaman pribadi, maka itu bukanlah cerpen. Namun, ada juga sebuah cerpen berdasarkan kisah nyata. Dalam hal ini, kisah nyata tersebut hanya diperlakukan sebagai sumber ide. Setelah itu, ide tersebut diolah sedemikian rupa, sehingga ia menjadi cerita fiksi alias tidak nyata.

Cerpen tentu banyak jenisnya. Pembagiannya pun bermacam-macam. Berdasarkan segmen pembacanya, ada cerpen anak-anak, cerpen remaja, dan cerpen dewasa. Berdasarkan temanya, ada cerpen drama, cerpen misteri, cerpen humor, dan seterusnya. Tidak ada aturan bahwa cerpen itu harus ada dialognya atau tidak boleh ada dialog, dan seterusnya. Intinya sebenarnya adalah pada kesatuan cerita yang ditulis. Jika anda merasa bahwa cerpen tersebut lebih menarik tanpa dialog, atau lebih menarik jika isinya dialog semua. ya itu semuanya terserah Anda sebagai penulis. Setiap penulis punya kebebasan yang sangat luas dalam hal ini.

Menurut Tompkins dalam Ritawati (2005) ada lima tahap menulis, yaitu:

1) Tahap Pramenulis, yaitu fase persiapan menulis. Mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh dan yang diperlukan penulis dalam mengembangkan tulisannya. Pada tahap ini, penulis menentukan topik tulisan, mempertimbangkan maksud atau tujuan penulisan, kemudian mengorganisasikan ide dan informasi yang diperoleh;

2) Tahap menulisan atau pengembangan kerangka karangan;

3) Tahap perbaikan atau perevisian;

4) Tahap pengeditan, fokusnya menyangkut (a) penggunaan huruf kapital, (b) pemenggalan kata, (c) pemakaian tanda baca berdasarkan kaidah EYD;

5) Tahap publikasi

2. Melatih Menulis Cerpen dengan Metode Copy The Master

Model copy the master salah satu cara berlatih menulis sastra kreatif termasuk cerpen yang menyenangkan. Metode ini sama dengan membuat imitasi tulisan ahli. Imitasi atau membuat tiruan merupan salah satu metode pengajaran retorika yang fundamental pada zaman Romawai Kuno dan Renaissance. Imitasi pada zaman itu yaitu menyalin murni pidato dari seorang penulis yang disediakan. Ketika menyalin, mereka diajari untuk menguraikan dan menemukan sarana-sarana dari berbicara dan menulis, yang membawa kepada bermacam jenis analisis retorika dari model-model mereka. Dari model itu bisa diambil dan dikembangkan sarana berbicara, strartegi-strategi argumentatif, dan pola susunan. Mahasiswa diinstruksikan untuk mencatat paragraf dari bacaan yang berharga, yang akan mereka kutip atau tiru dalam berbicara atau menulis mereka sendiri. Latihan membuat imitasi membantu siswa mengasimilasi dan mendapatkan kebaikan-kebaikan yang tepat dari model-model yang ditunjukkan.

Metode copy the master menuntut dilakukannya latihan-latihan sesuai dengan master yang diberikan. Latihan dengan metode ini tidak mesti tulisan dari seorang penulis terkenal, tetapi dapat juga diambil dari sebuah tulisan yang berasal dari penulis biasa, yang dianggap sebagai sebuah model, setelah dilakukan modifikasi seperlunya. Kemudian model ini dibaca terlebih dahulu, dilihat isi dan bentuknya, dianalisis serta dibuatkan kerangkanya, serta dilakukan hal-hal lain yang perlu, baru sesudah itu tiba waktunya untuk menulis. Tentu saja yang dituliskan itu tidak persis sama seperti modelnya: ini namanya menyalin bulat-bulat, menjiplak, atau bahkan membajak. Sebenarnya yang akan dikopi adalah kerangkanya, atau idenya, atau bahkan juga tekniknya. Mengubah cerita adalah cerita dari suatu master yang di copy menjadi lain atau berbeda. (Marahimin, 2005: 20-21).

Langkah-Langkah Latihan Copy The Master

1) Mari kita membaca dan menikmati sebuah karya sastra yang menarik. Karya sastra yang dibacaan diharapkan akan menumbuhkan kearifan mahasiswa kepada manusia dan kehidupan, mengasah sensitivitas estetik, memupuk empati pada duka derita orang-orang yang malang dan menyerap nilai-nilai luhur kemanusiaan (seperti keimanan, kejujuran, ketertiban, tanggung jawab, dsb.). Karena karya sastra yang bermutu akan memotivasi untuk menciptakan karya sastra serupa yang lebih baik.

Karya sastra yang akan dijadikan model diharapkan ditulis oleh penulis profesional, dan sebaiknya tulisan yang telah dipublikasikan, supaya kualitasnya terjamin. Dengan demikian, mahasiswa akan memiliki model tulisan yang akan menjadi parameter tulisan yang akan mereka buat.

Banyak para ahli berpendapat bahwa menulis sebaiknya dimulai dari yang dekat, kemudian pelan-pelan berangsur ke yang jauh. Dari yang konkret ke yang abstrak. Atau mulailah dengan yang paling menarik hati kita sendiri, yang paling kita kenal, yang paling kita kuasai materinya.

2) Usahakan situasi dapat membuat siswa asyik membaca.

3) Pelajari karya sastra yang sudah dibaca tadi dengan seksama, lalu diskusikan karya sastra itu bersama-sama.

4) Berdasarkan karya tersebut buat analisis dan kerangkanya berdasarkan unsur-unsur intrinsik (tema, amanat, alur, tokoh dan penokohan, tempat, bahasa, dan sudut pandang) dan ekstrinsik karya sastra (latar sosial budaya penulisnya).

5) Berdasrakan hasil analisis di atas, tentukanlah perubahan imitasi yang akan dibuat, misalnya:

(1) Struktur sama isi berbeda. Cerpen imitasi yang akan dibuat tidak persis sama dengan cerpen master. Struktur (alur cerita) cerpen yang sama tetapi isi cerpen berbeda.

(2) Struktur berubah isi sama. Isi cerpen sama, tetapi alur certita berubah. Misalnya dari alur mundur menjadi alur maju dan sebaliknya.

(3) Isi berbeda bentuk sama. Bentuk alur dan stuktur cerpen sama, namun isi cerita diubah. Misalnya dari berakhir bahagia menjadi berakhir sedih dan sebaliknya

(4) Isi sama bentuk berbeda. Mahasiswa mempelajari sebuah puisi secara berulang-ulang, kemudian menuliskannya dalam bentuk prosa (cerpen) dengan kalimat sendiri.

Latihan 1

1) Baca dan apresiasilah cerita di bawah ini:

TANGIS UNTUK ADIKKU” Cerpen terjemahan

Disunting Oleh Eulis Anggia Budiarti

Aku dilahirkan disebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil, miskin, kering dan gersang. Hari demi hari orang tuaku membajak tanah kering itu, Hitam legam punggungnya menghadap kelangit, namun hasil yang didapat tak seberapah.

Adikku yang 3 tahun lebih mudah dariku sangat luar biasa, Ia mencintaiku lebih dari aku mencintainya.

Sore itu, hatiku gundah. Aku iri melihat sarung tangan yang digunakan semua gadis di sekelilingku. Aku ingin memilikinya, Dengan mengendap-endap aku mencuri 5 sen dari laci ayahku. Namun, ayah segerah menyadarinya, dan membuat kami berdua berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu.?” Ayah bertanya, aku terpaku, tubuhku kaku terlalu takut untuk mengaku. Ayah kembali berkata dengan tegas.

“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukuli”. Ayah siap mengangkat tongkat bambu tinggi-tinggi. Namun, tiba-tiba, adikku mencengkram tangannya dan berkata,

“Ayah..aku yang melakukannya…” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai ayah kehabisan nafas. Kemudian, ayah duduk diranjang batu bata kami dan adikku dimarahi,

“Kamu sudah berani mencuri dari rumah. Sungguh memalukan apalagi yang akan kau lakukan dimasa mendatang..?”

Malam itu, aku dan ibuku memeluk adikku. Tubuh ringkihnya dipenuhi luka, tetapi ia tidak menitikan air mata setetes pun. Malam itu aku menangis maraung-raung penuh sesal. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,

“Kak, jangan menangis lagi sekarang semua itu sudah terjadi”.

Aku masih membenciku karena kepengecutanku. Bertahun-tahun sudah lewat namun peristiwa itu masih terasa baru kemarin. Aku tidak akan lupa wajah adikku ketika melindungiku. Waktu itu adikku berusia 8 tahun dan aku 11 tahun.

Kini adikku masuk SMA dipusat kabupaten, pada saat yang sama, aku diterima di universitas provinsi. Malam itu ayah berjongkok di halaman, sambil menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Terdengar ayah berkata,

“Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik.” Tampak Ibu mengusap air matanya sambil menghela nafas, dan berkata pelan.

“Apa gunanya? bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus” Tiba-tiba adikku ke luar dan berkata tegas,

“Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi”. Namun apa lacur, tiba-tiba ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku tepat pada wajahnya.

”Mengapa kau memiliki jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika saya harus mengemis di jalan, saya akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun-dusun untuk meminjam uang.

Aku menjulurkan tangan selembut yang aku bisa kemuka adikku yang membengkak. Kubisikan kata-kata bujukan, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolah sampai selesai. Kalau tidak, ia tidak akan meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Kuputuskan, akulah yang tidak meneruskan ke universitas. Namun, siapa sangka keesokan harinya, saat subuh datang. Adikku meninggalkan rumah dengan sehelai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang telah mengering. Dia menyelinap ke kamarku dan menaruh secarik kertas di atas bantalku

“Kak, masuk universitas tidaklah mudah, saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang.” Aku memegang kertas di atas tempat tidurku, dan aku menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu usia adikku 17 tahun dan aku 20. Dengan uang pinjaman dari seluruh dusun dan uang yang dihasilkan adikku dari mengangkut semen pada punggungnya, aku akhirnya sampai ke tahun ke 3.

Ketika aku sedang belajar temanku masuk dan memberitahuku, ”Mic, ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar!”

Aku heran, ada apa seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup semen dan pasir. “Mengapa kau tidak bilang pada temanku kalau kamu adalah adikku?” Kataku marah.

Dia menjawab sambil tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku, apa yang meraka pikir jika meraka tahu kalau saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku menyapu debu-debu adikku. “Aku tidak peduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kau adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..!” Sekat suaraku.

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskannya, “Saya melihat semua gadis kota memakaiannya, jadi saya pikir kamu harus mamilikinya satu..” Titik air mataku, kupeluk dia dalam tangis yang mengharu biru. Tahun itu, ia berusia 20 tahun dan aku 23 tahun.

Pertama kali aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan terlihat bersih dimana-mana. Setelah pacarku pulang aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersikan rumah kita.!”

Ibu menjawab sambil tersenyum, “Itu adikmu yang pulang lebih awal untuk membersikan rumah ini, Tidakkah kau melihat tangannya? Ia terluka saat mengganti kaca jendela itu.”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku, melihat mukanya yang kurus, serasa seratus jarum menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya, dan membalut lukanya. “Apa itu sakit?” Kataku.

“Tidak, tidak sakit, kamu tahu, ketika saya bekerja dilokasi, batu-batu berjatuhan pada kakiku disetiap waktu, bahkan itu tidak menghentikanku berkerja, dan….” Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikan tubuhku memunggunginya, dan air mata deras turun kewajahku.

Tahun itu adikku berumur 23 dan aku 26. Ketika aku menikah aku tinggal di kota, tiap kali suami dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, mereka selalu menolak. Adikku tidak setuju juga,

“Kak, jagalah mertuamu, biar aku yang menjaga ibu dan ayah di sini.”

Kami menginginkan adikku bekerja sebagai manajer pada departemen pemeliharaan di perusahan suamiku. Tetapi adikku menolak, ia bersikeras memulai pekerjaan sebagai pakerja reparasi. Suatu hari, adikku terkenan sengatan listrik, ketika memperbaiki sebuah kabel.

“Mengapa kamu menolak menjadi menejer? Manajer tidak pernah malakukan hal yang berbahaya yang seperti ini. Lihat kamu sekarang, lukamu begitu serius. Mengapa kamu tidak mendengarkan kami? Kataku cemas, ketika menengoknya di rumah sakit.

Ia membela keputusannya. “Pikirkanlah, kakak ipar baru saja menjadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan, jika saya menjadi manajer, berita apa yang akan tersebar?”

Mataku merah, “Kamu tidak sekolah karena aku!” jawabku terbata-bata.

“Mengapa membicarkan masa lalu?” adikku menggegam tanganku. Tahun itu ia berusia 26 tahun dan aku 29 tahun.

Adikku kemudian berusia 30 tahun ketika menikahi seorang gadis dari dusun itu. Dalam acara pernikahanya, pembawa acara itu bertanya kepadanya, “Siapa orang yang kamu hormati dan kasihi?” bahkan tanpa berfikir ia menjawab.

“Kakak ku”. Ia kembali menceritakan sebuah kisah yang bahkan tidak dapat ku ingat.

“Ketika saya SD, sekolah kami berada pada dusun yang berbeda. setiap hari kakakku dan saya berjalan selama 2 jam untuk pergi dan pulang ke rumah. Suatu hari saya kehilangan satu dari sarung tanganku, kakakku memberikannya satu dari kepunyaannya, ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangan kakakku gemetar karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup saya akan menjaga kakakku dan berbuat baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruang itu, semua tamu memalingkan pandangannya kepadaku. Kata-kata yang begitu susah keluar dari bibirku,

“Dalam hidupku orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku”

Dalam kesempatan yang bahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mataku kembali titik untuk adikku……

Buatlah imitasi dari cerpen di atas dengan mengubah alur cerita dan sudut pandang pengisahan dari kata “aku” menjadi “dia” , artinya bahwa yang berperan dalam cerpen di atas bukan lagi aku si penulis, tetapi dia (isi dan kalimat bisa diubah seperlunya, dan perhatikan setiap pengubahan pronominal pesona dari “aku” menjadi “dia”)!

Latihan 2

Masih ingatkah dengan cerita Putri Salju?

Buatlah imitasi cerita Putri Salju dalam bentuk cerpen, dengan mengcopy idenya saja, tetapi kisah dalam cerpen adalah cerita masa kini. Diakhir cerita buatlah perubahan, bahwa putri salju tidak bisa menikah dengan panggeran, (nama tokoh sesuai dengan nama yang lazim digunakan di daerah Anda, sedangkan setting terjadi di kampus IPB).

3. Penutup

Menulis cerpen jadilah sangat mudah bila kita berlatih dengan metode copy the master seperti di atas. Perlu diperhatikan dalam penulisan cerpen yang menarik apabila di dalamnya mengandung amanat yang luhur, terdapat nilai-niali kemanusiaan, dan bagi bangsa yang berbhineka maka penonjolan kearifan lokal sangat membatu kelestarian budaya bangsa.

Pada pencantuman tahun kejadian, nama jalan dan nama tokoh diharapkan sesuai dengan kenyataan, tidak terjadi kekeliruan nama jalan dengan lokasi cerpen. Atau nama tokoh terkenal dengan nama tempat. Tahun tertentu dengan kejadian tertentu. Oleh karena itu, pengetahuan penulis akan unsur-unsur ekstrinsik sebuah karya sastra sangat diperlukan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi ketidak sesuaian fakta sejarah. Cerpen walaupun fiksi namun tetap harus terlihat natural. Pengetahuan penulis yang luas sangat menentukan kualitas cerpen yang dihasilkan. Semua itu diperoleh dengan banyak membaca dan membaca.

Senarai Pustaka

Akhadiah, Sabarti. 1986. Modul Menulis 1. Jakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan Universitas Terbuka.

Aminuddin. 1995. Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.

Arief, Ermawati. 2006. Retorika Lisan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSS UNP Tahun Akademik 2005. (Tesis) Tidak diterbitkan. Padang: PPS UNP.

Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi.

Ismail, Taufik. 2003. Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca tak Pincang Mengarang. (Pidato Penganugerahan Gelar Kehormatan Doctor Honoris Causa di Bidang Pendidikan Sastra). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Marahimin, Ismain. 2005. Menulis Secara Populer. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta. Gama Media.