Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 April 2011

Mimpi-mimpiku


Mimpi-mimpiku Diawal Tahun 2006
Aku Bermimpi Memiliki LPTK Bermutu 
Akubermipi Indonesia akan memiliki Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) bermutu. LPTK sebagai suatu lembaga yang menghasilkan lulusan seorang guru, harus menjadi suatu lembaga ”elit” sehingga menarik calon mahasiswa dari kelompok pemuda bangsa terbaik dan berbakat untuk menjadi guru. LPTK harus dapat menumbuhkan suatu motivasi dan kebanggaan calon guru akan profesinya.
Suatu saat, aku akan memandang dengan takjub ketika putra-putri terbaik berebut untuk dapat terseleksi masuk LPTK seperti berebut kursi di kantor DPR. Tentu amat berbeda antara berebut kursi DPR dengan kursi di LPTK. Masuk LPTK tidak membutukan dana kampaye milyar rupiah, cukup mengandalkan intelektualitas, moralitas dan jiwa profesionalisme.
LPTK harus menyeleksi calon mahasiswa, seperti anggota dewa menyeleksi calon presiden. LPTK harus memiliki kriteria ketat tentang syarat kelulusan seorang calon guru. Sehingga LPTK bukan lagi sebagai lembaga alternatif, karena tidak dapat bersaing di Fakultas Kedokteran atau Fakultas Teknik.  

Aku Bermimpi Memiliki Guru Bermutu
Aku bermimpi suatu saat Indonesia akan kebanjiran guru-guru bermutu. Sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi suatu kegiatan yang menarik, kreatif dan inovatif karena ditangani seorang guru profesional. Sebuah peribahasa Jepang mengatakan Sehari bersama guru yang hebat lebih baik daripada ribuan hari belajar dengan rajin.” Peribahasa tersebut akan menjadi kenyataan kelak di Indonesiaku.
Kita boleh bercermin ke negara Jepang ketika Hiroshima dan Nagasaki di Bom atom oleh sekutu. Kaisar Jepang bertanya, “Berapa orang guru lagi yang tersisa?” Kaisar tidak bertanya berapa tentara atau militer lagi yang tersisa, tetapi berapa guru. Hal ini menyatakan bahwa untuk membangun suatu bangsa besar yang dibutuhkan adalah seorang guru yang bermutu.  
Mengapa? Karena guru adalah pekerjaan profesi. Profesi bukan sekedar pekerjaan atau vocation, melainkan suatu vokasi  khusus yang mempunyai ciri-ciri expertise; keahlian; responsibility; tanggung jawab; dan corporateness; rasa kesejawatan. National Education Association (NEA) menyarankan kriteria pekerjaan profesional:
1)      Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual.
2)      Jabatan yang manggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
3)      Jabatan yang memerlukan persiapan profesional yang lama.
4)      Jabatan yang memerlukan ‘latihan dalam jabatan’ yang 
       bersinambungan.
5)      Jabatan yang menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
6)      Jabatan yang menentukan baku (standarnya) sendiri.
7)      Jabatan yang lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
8)      Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
Pernyataan NEA di atas, menjelaskan bahwa kriteria guru adalah seseorang yang memegang jabatan yang intelektual berarti pintar, berilmu pada bidang mata pelajaran tertentu. Oleh karena itu, jabatan guru dinamakan jabatan profesional. Guru yang profesional akan mempersiapkan diri dalam mengajar secara profesional juga.
Aku bermimpim memiliki pendidikan yang baik, yang tentunya berawal dari guru yang baik pula. Guru yang baik tentu profesional. Guru yang profesional tentu memiliki tanggung jawab terhadap profesinya.
Jabatan guru seharusnya bukan jabatan yang terpaksa karena tidak dapat bersaing di lapangan pekerjaan lain. Namun kenyatan yang ada, ketika saya bertanya kepada teman sejawat, “Mengapa anda memilih pekerjaan sebagai guru?” Dia menjawab, ”Saya terpaksa menjadi guru karena tidak lulus di kedokteran.” Aku sangat kecewa mendengar jawaban tersebut. Karena jabatan guru yang kuimpikan adalah suatu jabatan yang diperebutkan oleh anak-anak bangsa yang cerdas, bukan anak bangsa yang kalah bersaing.

Aku Bermimpi Guru Hidup Sejahtera
Aku bermimpi gaji guru sepadan dengan gaji seorang presiden. Seperti halnya di Jepang. Gaji seorang guru satu tingkat di bawah kaisar. Gaji guru bukan lagi gaji si Umar Bakri yang setiap bulan harus mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Aku bermimpi gaji guru di Indonesia sepadan dengan gaji guru di Amerika Serikat yang 2/3 gajinya tersisa setiap bulannya. Jika kesejahteraan guru terjamin, maka guru dapat bekerja secara profesional, yang seluruh waktunya dapat dicurahkan untuk menjadi pendidik.
Suatu pernyataan yang kerap muncul ialah: usaha apa yang paling tepat untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu guru? Apakah melalui penataran, pendidikan penjenjangan atau penyetaraan, pelatihan dan pembinaan? Atau meningkatkan profesi guru dengan meningkatkan kesejahteraannya terutama gaji?
Saya berpendapat peningkatan kesejahteraan gurulah yang paling berpengaruh meningkatkan mutu guru. Besarnya gaji guru akan mengangkat profesi guru sebagai pekerjaan ”elit” yang diburu anak bangsa. Dengan demikian, pemerintah dapat menentukan kriteria khusus bagi calon guru. Kalau boleh guru adalah pegawai kontrak yang dapat diputuskan masa kontraknya jika tidak berkualitas dan profesional.

Aku Bermimpi Pendidikan Indonesia Melimiki Kurikulum Bermutu
Aku bermimpi pendidikan di Indonesia memiliki kurikulum bermutu. Kurikulum yang dapat mencerdaskan intelektual, emosional sekaligus etis-religius. Karena di tengah menurunnya moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik, korupsi meraja lela, dan perilaku keseharian yang menyimpang, pendidikan moral yang menekankan dimensi etis-religius lah yang tepat untuk diterapkan.
Kenyataannya, tradisi pendidikan di Indonesia belum menuju pendidikan yang ber-kinerja dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi belum menjadi tujuan pendidikan. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Mereka membuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yang dikatakan guru.
Kurikulum 2004 atau KBK atau KTSP telah berusaha menjawab semua permasala-han di atas. Namun, kurikulum 2004 yang ceritanya dapat menghargai semua kemampuan siswa, ternyata tidak 100% diterapkan. Tampaknya pemerintah setengah hati dalam menerapkan suatu pembaharuan. Guru dibuat bingung, siswa apa lagi. Dampaknya pada ujian nasional 2006, angka kelulusan melonjak. Pada tingkat SMA dari 80,76% naik menjadi 92,50%, dan untuk SMK dari 78,29% menjadi 91,00%. Sayangnya hasil ujian nasional yang gilang gemilang didapat dari proses manipulasi guru.
Para guru menyadari risiko atas apa yang dilakukannya, tapi ujian nasional telah merampas hak pedagogis dalam menentukan kelulusan. Gurulah yang mengetahui seluk-beluk mengenai murid, tapi kenapa pemerintah yang memutuskan siapa yang berhak atau tidak berhak lulus dengan hanya ditentukan beberapa mata pelajaran. Campur tangan tersebut jelas menggambarkan rendahnya kadar kepercayaan pemerintah terhadap kinerja guru.
Dasar resentralisasi ujian akhir karena adanya asumsi yang dihembuskan pemerintah, bahwa buruknya mutu pendidikan karena guru dan murid malas belajar. Agar mereka rajin, penentuan kelulusan harus diambil alih. Padahal sebenarnya, pemerintahlah yang gagal dalam menjalankan kewajiban menyediakan layanan pendidikan bermutu. Guru dan murid tidak nyaman menjalankan proses belajar-mengajar.
Melalui kebijakan ujian nasional, daerah dan sekolah dipaksa membenarkan asumsi pemerintah. Padahal kondisi nyata tidak memungkinkan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Karena jujur saja pelayanan pendidikan di daerah umumnya masih buruk. Maka untuk mempertaruhkan nama daerah dan sekolah. Guru memilih cara instan, yaitu dengan melakukan manipulasi.
Kondisi tersebut menimbulkan penekanan berjenjang. Pemerintah daerah yang ditekan pemerintah pusat akan menekan sekolah. Sehingga ujian nasional tidak lagi berhubungan dengan kepentingan pendidikan, tapi menjadi alat mencapai kepentingan politik. Yaitu memuaskan kebutuhan pemerintah pusat, juga mengangkat citra daerah karena dianggap berhasil memajukan pendidikan.
Kejadian di atas merupakan bukti nyata kegagalan di dunia pendidikan dalam pembentukan karakter manusia agar hidup penuh kejujuran dan selalu dipandu nurani. Kegagalaan tersebut dapat menjadi salah satu penyebab merebaknya korupsi di tanah air. Karena guru telah menanamkan virus kepada anak didik, bahwa sukses bisa diperoleh dengan cara manipulasi yang seolah sah-sah saja. Peristiwa itu juga menggoreskan catatan seumur hidup di hati anak. Manipulasi hasil ujian nasional telah merobohkan prinsip kejujuran. Akibatnya, jika suatu saat guru mengajarkan nilai-nilai kejujuran, anak akan menilai semua itu bisa ditawar. Singkatnya, secara moral guru tidak lagi punya wibawa untuk mengajarkan kejujuran di mata anak didiknya.
Ketika pendidikan tidak lagi mengutamakan prinsip-prinsip moralitas, maka akan melahirkan generasi yang bobrok dan berpotensial membunuh nalar sehat dan hati nurani. Padahal, seseorang akan merasa lebih berharga saat mampu meraih kebahagiaan bathin, yaitu intelektual, estetika, moral, dan spiritual. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu anak didik bisa merasakan, menghayati, dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat lahiriah sampai yang bersifat batiniah dan spiritual.
Produk pendidikan di Indonesia selama ini amat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas anak, melupakan akal budi dan emosi. Sehingga anak sulit mengagumi tiupan lembut angin terhadap awan,  tetesan air hujan terhadap bumi, kekompakan hidup dunia lebah yang merupakan ayat-ayat Allah sebagai bahasa alam yang semua itu merupakan bacaan terbuka yang amat indah.
Sebagai bangsa yang menyongsong kemajuan Iptek yang amat pesat, kita masih harus berkutat dengan kualitas pendidikan. Terlepas dari kesahihan standar kualitas dalam Ujian Nasional, hasil yang diperoleh di tingkat SD/MI maupun SMP/MTs menunjukkan kurang dari 60% dari materi yang dikuasai siswa. Hanya 24,12% SMP/MTs yang masuk kategori "sedang" ke atas. 0,03% tergolong "baik sekali" dan 2,14% tergolong "baik".
Terlepas dari berapa persen materi yang dikuasai siswa, sesungguhnya suatu pendidikan dipandang bermutu diukur dari kedudukannya untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional. Pendidikan yang berhasil membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter, bermoral dan berkepribadian. Dalam bahasa UNESCO mampu moulding the character and mind of young generation.
Oleh karena itu, masa depan bangsa yang kuimpikan adalah membangun bangsa melalui pendidikan dengan merancang suatu sistem pendidikan demokratis yang mampu menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan, merangsang dan menantang peserta didik untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
Atas dasar ini pula, pendidikan yang demokratis, tidak mengenal ujian nasional untuk memilih dan memilah. Kebijaksanaan yang diutamakan adalah membantu setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal, yaitu dengan:
(1)  Menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan penuh kegembiraan dengan fasilitas olahraga dan ruang bermain yang memadai dan ruang kerja guru;
(2)  Menyediakan media pembelajaran yang kaya, yang memungkinkan peserta didik dapat secara terus-menerus belajar melalui membaca buku wajib, buku rujukan, dan buku bacaan, (termasuk novel), serta kelengkapan laboratorium dan perpustakaan yang memungkinkan peserta didik belajar sampai tingkatan menikmati belajar;
(3)   Evaluasi yang terus-menerus, komprehensif dan obyektif.


Aku Bermimpi Pendidikan di Indonesia Dapat Meningkatkan Kesejahteraan 
Berdasarkan buku terakhirnya William Schweke, Smart Money: Education and Economic Development, menjelaskan bahwa pendidikan yang bermutu akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, memiliki pengetahuan, keterampilan,  menguasai teknologi, dan juga menumbuhkan iklim bisnis yang sehat bagi pertumbuhan ekonomi.
Pendidikan memberi kontribusi secara signifikan terhadap maju mundurnya suatu negara telah menjadi kebenaran yang bersifat aksiomatik. Investasi di bidang pendidikan tidak saja berfaedah bagi perorangan, tetapi juga bagi negara. Pencapaian pendidikan pada semua tingkat akan meningkatkan pendapatan dan produktivitas masyarakat. Pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Sebaliknya, kegagalan dalam membangun pendidikan akan melahirkan berbagai problem mendasar, seperti pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan welfare dependency yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah.
Demi mewujudkan mimpiku, bolehlah Indonesiaku bercermin ke Korea. Peranan pendidikan terhadap pembangunan ekonomi dapat dilihat dari perkembangan ekonomi di Korea. Semula Korea yang secara ekonomi tertinggal, ternyata mampu mengungguli dua negara di Afrika yaitu Kenya dan Zimbabwe.
Yang-Ro Yoon seorang peneliti ekonomi Bank Dunia, dalam Effectiveness Born Out of Necessity: A Comparison of Korean and East African Education Policies, menge-mukakan sejumlah temuan menarik. Pada dekade 1960-an GNP per kapita Korea hanya 87 dollar AS, sementara Kenya 90 dollar AS. Memasuki dekade 1970-an GNP per kapita Korea mulai meningkat menjadi 270 dollar AS, namun masih lebih rendah dibanding Zimbabwe yang telah mencapai 330 dollar AS.
Memasuki dekade 1980-an, pembangunan ekonomi di Korea berlangsung amat pesat. Bahkan antara periode 1980 dan 1996 dapat dikatakan sebagai masa keemasan, negeri gingseng itu mampu melakukan transformasi ekonomi secara fundamental. Pada tahun-tahun itu pertumbuhan ekonomi Korea melesat jauh meninggalkan Kenya dan Zimbabwe.
Keberhasilan Korea dalam membangun ekonomi, kuncinya adalah komitmen yang kuat dalam membangun pendidikan. Berbagai penelitian membuktikan, dasar pendidikan di Korea memang amat kokoh. Pemerintah Korea mengambil langkah-langkah jitu pada tahun 1960-an s.d. 1990-an. Program wajib belajar pendidikan dasar berhasil dituntaskan tahun 1965, sementara Indonesia baru mulai tahun 1984. Wajib belajar jenjang SMP berhasil dicapai tahun 1980-an; dan jenjang SMA secara universal pada periode yang sama. Selain itu, jenjang pendidikan tinggi mengalami peningkatan, lebih dari setengah anak-anak usia sekolah pada tingkat ini telah memasuki perguruan tinggi.
Komitmen Pemerintah Korea terhadap pembangunan pendidikan itu tercermin pula pada  anggaran pendidikan mencapai 15 persen dari total belanja negara, guna mendukung universal basic education maka terus meningkat secara reguler menjadi 23 persen tahun 1971. Setelah program ini sukses, Pemerintah Korea mulai menurunkan anggaran pendidikan antara 14 sampai 17 persen dari total belanja negara. Menyadari bahwa pendidikan dasar merupakan bagian dari public good, maka Pemerintah Korea mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dasar jauh lebih besar dibanding tingkat menengah dan tinggi.
Bercermin pada pengalaman Korea, pemerintah Indonesia harus mengambil langkah-langkah nyata dalam upaya membangun pendidikan nasional. Investasi di bidang pendidikan secara nyata telah berhasil mendorong kemajuan ekonomi dan menciptakan kesejahteraan sosial. Karena segala permasalahan di Indonesia -- rawan konflik, rawan bencana, rawan kecelakaan, rawan peraturan -- bermuara pada masalah ekonomi dan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat atau kasarnya ujung-unjungnya duit. 
Semoga dengan perbaikan dibidang pendidikan dapat mengantarkan bangsa Indonesia ke suatu negara yang diimpi-impikan rakyatnya.  Yaitu, negara Indonesia yang merdeka dari segala bentuk penjajahan dan penindasan, adil, sejahtera lahir batin, aman sentosa, damai, makmur, dan sebagainya dan sebagainya. Semoga aamiin.

Membangun Papua Melalui Pendidikan


Oleh: Dra. Eulis Anggia Budiarti, M. Pd.

Bila masyarakat Indonesia ditanya tentang masa depan bangsa apa yang diimpikannya. Pasti mereka akan menjawab, bahwa mereka memimpikan bangsa Indonesia yang merdeka dari segala bentuk penjajahan dan penindasan, adil, sejahtera lahir batin, aman sentosa, damai, makmur, dan sebagainya dan sebagainya. Namun nyatanya, kita bukanlah hidup di dunia mimpi yang bermimpi memiliki suatu negara yang makmur. Kita hidup di dunia nyata yang memang memiliki negara rawan konflik, rawan bencana, rawan kecelakaan, dan rawan peraturan.
Kita boleh berharap untuk suatu keadaan yang lebih baik. Karena jika kita tidak punya harapan, berarti kita pasrah dengan keadaan. Aku sebagai guru memimpikan  masa depan bangsa sesuai dengan profesiku. Yaitu suatu bangsa yang memiliki sistem pendidikan yang patut ditiru oleh negara lain. Pendidikan yang dapat dibanggakan di mata dunia dan menjadi model pendidikan dunia. Jadi boleh lah kita membangun bangsa Indonesia berawal dari pendidikan.

Minggu, 17 April 2011

Menulis Cerpen dengan Metode Copy The Master

MENULIS CERPEN DENGAN METODE COPY THE MASTER

Oleh: Dra. Eulis Anggia Budiarti, M. Pd.

1. Pendahuluan

Menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan menjadi sebuah susunan karangan. Sebuah hasil tulisan berbanding lurus dengan logika dan kecerdasan penulis. Seorang yang memiliki alur berpikir yang runtun dan logis, maka akan tercermin dalam tulisannya.

Menurut Akhadiah (1986: 1.1) menulis merupakan suatu proses yang dilakukan oleh penulis untuk menyampaikan gagasannya melalui media tulisan. Menulis atau lazim juga disebut mengarang merupakan kegiatan yang sekaligus menuntut beberapa kemampuan. Karena ketika menulis, kita harus memiliki pengetahuan tentang apa yang akan ditulis juga pengetahuan bagaimana menuliskannya. Pengetahuan pertama menyangkut isi karangan sedang yang kedua menyangkut aspek-aspek kebahasaan dan teknik penuliskan. Baik isi karangan, aspek kebahasaan, maupun teknik penulisannya bertalian erat dengan proses berpikir.

Membiasakan menulis untuk kalangan remaja terutama mahasiswa menjadi sangat penting, karena selain sebagai upaya mengasah kemampuan intelektualnya. Lebih dari itu, karena bahan bakar menulis itu membaca, bagi remaja yang telah terbiasa menulis akan senantiasa merasa haus untuk membaca dan membaca lagi. Dengan banyak membaca dipastikan pengetahuan akan bertambah sehingga diharapkan para remaja akan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ismail (2003) kesulitan siswa menulis berbanding lurus dengan kebiasaan siswa yang sedikit membaca. Kegemaran membaca yang mulai dipupuk melalui buku sastra pada akhirnya mendorong siswa menghasilkan tulisan.

Menulis akan menjadi mudah dan menyenangkan jika sudah timbul motivasi dari diri sendiri. Pelajaran menulis tidak menjadikan mahasiswa menjadi penulis. Namun, ketrampilan yang dimiliki siswa diharapkan dapat bergunan dikemudian hari. Karena pada kenyataannya banyak orang yang hidup dengan menggantungkan diri pada hasil tulisan.

Cerpen bisa didefinisikan sebagai sebuah cerita yang formatnya sangat singkat, dan berisi penggalan cerita tertentu. Cerpen adalah karya fiksi. Maksudnya, cerita yang terkandung di dalamnya bukan kisah nyata.

Jadi jika anda menulis sebuah cerita yang merupakan pengalaman pribadi, maka itu bukanlah cerpen. Namun, ada juga sebuah cerpen berdasarkan kisah nyata. Dalam hal ini, kisah nyata tersebut hanya diperlakukan sebagai sumber ide. Setelah itu, ide tersebut diolah sedemikian rupa, sehingga ia menjadi cerita fiksi alias tidak nyata.

Cerpen tentu banyak jenisnya. Pembagiannya pun bermacam-macam. Berdasarkan segmen pembacanya, ada cerpen anak-anak, cerpen remaja, dan cerpen dewasa. Berdasarkan temanya, ada cerpen drama, cerpen misteri, cerpen humor, dan seterusnya. Tidak ada aturan bahwa cerpen itu harus ada dialognya atau tidak boleh ada dialog, dan seterusnya. Intinya sebenarnya adalah pada kesatuan cerita yang ditulis. Jika anda merasa bahwa cerpen tersebut lebih menarik tanpa dialog, atau lebih menarik jika isinya dialog semua. ya itu semuanya terserah Anda sebagai penulis. Setiap penulis punya kebebasan yang sangat luas dalam hal ini.

Menurut Tompkins dalam Ritawati (2005) ada lima tahap menulis, yaitu:

1) Tahap Pramenulis, yaitu fase persiapan menulis. Mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh dan yang diperlukan penulis dalam mengembangkan tulisannya. Pada tahap ini, penulis menentukan topik tulisan, mempertimbangkan maksud atau tujuan penulisan, kemudian mengorganisasikan ide dan informasi yang diperoleh;

2) Tahap menulisan atau pengembangan kerangka karangan;

3) Tahap perbaikan atau perevisian;

4) Tahap pengeditan, fokusnya menyangkut (a) penggunaan huruf kapital, (b) pemenggalan kata, (c) pemakaian tanda baca berdasarkan kaidah EYD;

5) Tahap publikasi

2. Melatih Menulis Cerpen dengan Metode Copy The Master

Model copy the master salah satu cara berlatih menulis sastra kreatif termasuk cerpen yang menyenangkan. Metode ini sama dengan membuat imitasi tulisan ahli. Imitasi atau membuat tiruan merupan salah satu metode pengajaran retorika yang fundamental pada zaman Romawai Kuno dan Renaissance. Imitasi pada zaman itu yaitu menyalin murni pidato dari seorang penulis yang disediakan. Ketika menyalin, mereka diajari untuk menguraikan dan menemukan sarana-sarana dari berbicara dan menulis, yang membawa kepada bermacam jenis analisis retorika dari model-model mereka. Dari model itu bisa diambil dan dikembangkan sarana berbicara, strartegi-strategi argumentatif, dan pola susunan. Mahasiswa diinstruksikan untuk mencatat paragraf dari bacaan yang berharga, yang akan mereka kutip atau tiru dalam berbicara atau menulis mereka sendiri. Latihan membuat imitasi membantu siswa mengasimilasi dan mendapatkan kebaikan-kebaikan yang tepat dari model-model yang ditunjukkan.

Metode copy the master menuntut dilakukannya latihan-latihan sesuai dengan master yang diberikan. Latihan dengan metode ini tidak mesti tulisan dari seorang penulis terkenal, tetapi dapat juga diambil dari sebuah tulisan yang berasal dari penulis biasa, yang dianggap sebagai sebuah model, setelah dilakukan modifikasi seperlunya. Kemudian model ini dibaca terlebih dahulu, dilihat isi dan bentuknya, dianalisis serta dibuatkan kerangkanya, serta dilakukan hal-hal lain yang perlu, baru sesudah itu tiba waktunya untuk menulis. Tentu saja yang dituliskan itu tidak persis sama seperti modelnya: ini namanya menyalin bulat-bulat, menjiplak, atau bahkan membajak. Sebenarnya yang akan dikopi adalah kerangkanya, atau idenya, atau bahkan juga tekniknya. Mengubah cerita adalah cerita dari suatu master yang di copy menjadi lain atau berbeda. (Marahimin, 2005: 20-21).

Langkah-Langkah Latihan Copy The Master

1) Mari kita membaca dan menikmati sebuah karya sastra yang menarik. Karya sastra yang dibacaan diharapkan akan menumbuhkan kearifan mahasiswa kepada manusia dan kehidupan, mengasah sensitivitas estetik, memupuk empati pada duka derita orang-orang yang malang dan menyerap nilai-nilai luhur kemanusiaan (seperti keimanan, kejujuran, ketertiban, tanggung jawab, dsb.). Karena karya sastra yang bermutu akan memotivasi untuk menciptakan karya sastra serupa yang lebih baik.

Karya sastra yang akan dijadikan model diharapkan ditulis oleh penulis profesional, dan sebaiknya tulisan yang telah dipublikasikan, supaya kualitasnya terjamin. Dengan demikian, mahasiswa akan memiliki model tulisan yang akan menjadi parameter tulisan yang akan mereka buat.

Banyak para ahli berpendapat bahwa menulis sebaiknya dimulai dari yang dekat, kemudian pelan-pelan berangsur ke yang jauh. Dari yang konkret ke yang abstrak. Atau mulailah dengan yang paling menarik hati kita sendiri, yang paling kita kenal, yang paling kita kuasai materinya.

2) Usahakan situasi dapat membuat siswa asyik membaca.

3) Pelajari karya sastra yang sudah dibaca tadi dengan seksama, lalu diskusikan karya sastra itu bersama-sama.

4) Berdasarkan karya tersebut buat analisis dan kerangkanya berdasarkan unsur-unsur intrinsik (tema, amanat, alur, tokoh dan penokohan, tempat, bahasa, dan sudut pandang) dan ekstrinsik karya sastra (latar sosial budaya penulisnya).

5) Berdasrakan hasil analisis di atas, tentukanlah perubahan imitasi yang akan dibuat, misalnya:

(1) Struktur sama isi berbeda. Cerpen imitasi yang akan dibuat tidak persis sama dengan cerpen master. Struktur (alur cerita) cerpen yang sama tetapi isi cerpen berbeda.

(2) Struktur berubah isi sama. Isi cerpen sama, tetapi alur certita berubah. Misalnya dari alur mundur menjadi alur maju dan sebaliknya.

(3) Isi berbeda bentuk sama. Bentuk alur dan stuktur cerpen sama, namun isi cerita diubah. Misalnya dari berakhir bahagia menjadi berakhir sedih dan sebaliknya

(4) Isi sama bentuk berbeda. Mahasiswa mempelajari sebuah puisi secara berulang-ulang, kemudian menuliskannya dalam bentuk prosa (cerpen) dengan kalimat sendiri.

Latihan 1

1) Baca dan apresiasilah cerita di bawah ini:

TANGIS UNTUK ADIKKU” Cerpen terjemahan

Disunting Oleh Eulis Anggia Budiarti

Aku dilahirkan disebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil, miskin, kering dan gersang. Hari demi hari orang tuaku membajak tanah kering itu, Hitam legam punggungnya menghadap kelangit, namun hasil yang didapat tak seberapah.

Adikku yang 3 tahun lebih mudah dariku sangat luar biasa, Ia mencintaiku lebih dari aku mencintainya.

Sore itu, hatiku gundah. Aku iri melihat sarung tangan yang digunakan semua gadis di sekelilingku. Aku ingin memilikinya, Dengan mengendap-endap aku mencuri 5 sen dari laci ayahku. Namun, ayah segerah menyadarinya, dan membuat kami berdua berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu.?” Ayah bertanya, aku terpaku, tubuhku kaku terlalu takut untuk mengaku. Ayah kembali berkata dengan tegas.

“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukuli”. Ayah siap mengangkat tongkat bambu tinggi-tinggi. Namun, tiba-tiba, adikku mencengkram tangannya dan berkata,

“Ayah..aku yang melakukannya…” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai ayah kehabisan nafas. Kemudian, ayah duduk diranjang batu bata kami dan adikku dimarahi,

“Kamu sudah berani mencuri dari rumah. Sungguh memalukan apalagi yang akan kau lakukan dimasa mendatang..?”

Malam itu, aku dan ibuku memeluk adikku. Tubuh ringkihnya dipenuhi luka, tetapi ia tidak menitikan air mata setetes pun. Malam itu aku menangis maraung-raung penuh sesal. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,

“Kak, jangan menangis lagi sekarang semua itu sudah terjadi”.

Aku masih membenciku karena kepengecutanku. Bertahun-tahun sudah lewat namun peristiwa itu masih terasa baru kemarin. Aku tidak akan lupa wajah adikku ketika melindungiku. Waktu itu adikku berusia 8 tahun dan aku 11 tahun.

Kini adikku masuk SMA dipusat kabupaten, pada saat yang sama, aku diterima di universitas provinsi. Malam itu ayah berjongkok di halaman, sambil menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Terdengar ayah berkata,

“Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik.” Tampak Ibu mengusap air matanya sambil menghela nafas, dan berkata pelan.

“Apa gunanya? bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus” Tiba-tiba adikku ke luar dan berkata tegas,

“Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi”. Namun apa lacur, tiba-tiba ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku tepat pada wajahnya.

”Mengapa kau memiliki jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika saya harus mengemis di jalan, saya akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun-dusun untuk meminjam uang.

Aku menjulurkan tangan selembut yang aku bisa kemuka adikku yang membengkak. Kubisikan kata-kata bujukan, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolah sampai selesai. Kalau tidak, ia tidak akan meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Kuputuskan, akulah yang tidak meneruskan ke universitas. Namun, siapa sangka keesokan harinya, saat subuh datang. Adikku meninggalkan rumah dengan sehelai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang telah mengering. Dia menyelinap ke kamarku dan menaruh secarik kertas di atas bantalku

“Kak, masuk universitas tidaklah mudah, saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang.” Aku memegang kertas di atas tempat tidurku, dan aku menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu usia adikku 17 tahun dan aku 20. Dengan uang pinjaman dari seluruh dusun dan uang yang dihasilkan adikku dari mengangkut semen pada punggungnya, aku akhirnya sampai ke tahun ke 3.

Ketika aku sedang belajar temanku masuk dan memberitahuku, ”Mic, ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar!”

Aku heran, ada apa seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup semen dan pasir. “Mengapa kau tidak bilang pada temanku kalau kamu adalah adikku?” Kataku marah.

Dia menjawab sambil tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku, apa yang meraka pikir jika meraka tahu kalau saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku menyapu debu-debu adikku. “Aku tidak peduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kau adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..!” Sekat suaraku.

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskannya, “Saya melihat semua gadis kota memakaiannya, jadi saya pikir kamu harus mamilikinya satu..” Titik air mataku, kupeluk dia dalam tangis yang mengharu biru. Tahun itu, ia berusia 20 tahun dan aku 23 tahun.

Pertama kali aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan terlihat bersih dimana-mana. Setelah pacarku pulang aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersikan rumah kita.!”

Ibu menjawab sambil tersenyum, “Itu adikmu yang pulang lebih awal untuk membersikan rumah ini, Tidakkah kau melihat tangannya? Ia terluka saat mengganti kaca jendela itu.”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku, melihat mukanya yang kurus, serasa seratus jarum menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya, dan membalut lukanya. “Apa itu sakit?” Kataku.

“Tidak, tidak sakit, kamu tahu, ketika saya bekerja dilokasi, batu-batu berjatuhan pada kakiku disetiap waktu, bahkan itu tidak menghentikanku berkerja, dan….” Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikan tubuhku memunggunginya, dan air mata deras turun kewajahku.

Tahun itu adikku berumur 23 dan aku 26. Ketika aku menikah aku tinggal di kota, tiap kali suami dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, mereka selalu menolak. Adikku tidak setuju juga,

“Kak, jagalah mertuamu, biar aku yang menjaga ibu dan ayah di sini.”

Kami menginginkan adikku bekerja sebagai manajer pada departemen pemeliharaan di perusahan suamiku. Tetapi adikku menolak, ia bersikeras memulai pekerjaan sebagai pakerja reparasi. Suatu hari, adikku terkenan sengatan listrik, ketika memperbaiki sebuah kabel.

“Mengapa kamu menolak menjadi menejer? Manajer tidak pernah malakukan hal yang berbahaya yang seperti ini. Lihat kamu sekarang, lukamu begitu serius. Mengapa kamu tidak mendengarkan kami? Kataku cemas, ketika menengoknya di rumah sakit.

Ia membela keputusannya. “Pikirkanlah, kakak ipar baru saja menjadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan, jika saya menjadi manajer, berita apa yang akan tersebar?”

Mataku merah, “Kamu tidak sekolah karena aku!” jawabku terbata-bata.

“Mengapa membicarkan masa lalu?” adikku menggegam tanganku. Tahun itu ia berusia 26 tahun dan aku 29 tahun.

Adikku kemudian berusia 30 tahun ketika menikahi seorang gadis dari dusun itu. Dalam acara pernikahanya, pembawa acara itu bertanya kepadanya, “Siapa orang yang kamu hormati dan kasihi?” bahkan tanpa berfikir ia menjawab.

“Kakak ku”. Ia kembali menceritakan sebuah kisah yang bahkan tidak dapat ku ingat.

“Ketika saya SD, sekolah kami berada pada dusun yang berbeda. setiap hari kakakku dan saya berjalan selama 2 jam untuk pergi dan pulang ke rumah. Suatu hari saya kehilangan satu dari sarung tanganku, kakakku memberikannya satu dari kepunyaannya, ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangan kakakku gemetar karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup saya akan menjaga kakakku dan berbuat baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruang itu, semua tamu memalingkan pandangannya kepadaku. Kata-kata yang begitu susah keluar dari bibirku,

“Dalam hidupku orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku”

Dalam kesempatan yang bahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mataku kembali titik untuk adikku……

Buatlah imitasi dari cerpen di atas dengan mengubah alur cerita dan sudut pandang pengisahan dari kata “aku” menjadi “dia” , artinya bahwa yang berperan dalam cerpen di atas bukan lagi aku si penulis, tetapi dia (isi dan kalimat bisa diubah seperlunya, dan perhatikan setiap pengubahan pronominal pesona dari “aku” menjadi “dia”)!

Latihan 2

Masih ingatkah dengan cerita Putri Salju?

Buatlah imitasi cerita Putri Salju dalam bentuk cerpen, dengan mengcopy idenya saja, tetapi kisah dalam cerpen adalah cerita masa kini. Diakhir cerita buatlah perubahan, bahwa putri salju tidak bisa menikah dengan panggeran, (nama tokoh sesuai dengan nama yang lazim digunakan di daerah Anda, sedangkan setting terjadi di kampus IPB).

3. Penutup

Menulis cerpen jadilah sangat mudah bila kita berlatih dengan metode copy the master seperti di atas. Perlu diperhatikan dalam penulisan cerpen yang menarik apabila di dalamnya mengandung amanat yang luhur, terdapat nilai-niali kemanusiaan, dan bagi bangsa yang berbhineka maka penonjolan kearifan lokal sangat membatu kelestarian budaya bangsa.

Pada pencantuman tahun kejadian, nama jalan dan nama tokoh diharapkan sesuai dengan kenyataan, tidak terjadi kekeliruan nama jalan dengan lokasi cerpen. Atau nama tokoh terkenal dengan nama tempat. Tahun tertentu dengan kejadian tertentu. Oleh karena itu, pengetahuan penulis akan unsur-unsur ekstrinsik sebuah karya sastra sangat diperlukan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi ketidak sesuaian fakta sejarah. Cerpen walaupun fiksi namun tetap harus terlihat natural. Pengetahuan penulis yang luas sangat menentukan kualitas cerpen yang dihasilkan. Semua itu diperoleh dengan banyak membaca dan membaca.

Senarai Pustaka

Akhadiah, Sabarti. 1986. Modul Menulis 1. Jakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan Universitas Terbuka.

Aminuddin. 1995. Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.

Arief, Ermawati. 2006. Retorika Lisan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSS UNP Tahun Akademik 2005. (Tesis) Tidak diterbitkan. Padang: PPS UNP.

Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi.

Ismail, Taufik. 2003. Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca tak Pincang Mengarang. (Pidato Penganugerahan Gelar Kehormatan Doctor Honoris Causa di Bidang Pendidikan Sastra). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Marahimin, Ismain. 2005. Menulis Secara Populer. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta. Gama Media.

Jumat, 21 November 2008

Renungan Pertama

Untuk direnungkan!

Semester pertama tahun ajaran 2008/2009 tidak lama lagi akan berakhir, guru-guru SMAN 1 Jayapura lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan soal-soal ujian akhir semester. Namun, ada catatan merah yang membekas dalam hati saya, sudah layakkah saya menjadi seorang guru yang profesional dan ditandai dengan SK sertifikasi guru? Sementara kegiatan PBM yang saya lakukan masih abu-abu, ragu dan pincang sana pincang sini.

Sedangkan setiap tugas yang kuberikan kepada siswa adalah lambang kekuasaanku sebagai seorang guru. Layakkah aku menjadi seorang guru yang ditandai dengan SK sertifikasi guru yang dihargai dengan penambahan gaji 100%. Sementara tugas yang kuberikan hanya benang rapuh yang taklayak dipintal jadi benang.

Soal ujian telah kubuat, disitu tercetak dogma-dogma yang melayang entah kemana, karena dibuat sekedar memenuhi tugas dan mengakhiri perjalanan panjang yang melelahkan selama satu semester berceramah ngolor ngidur yang penting waktu mengajar dapat dihabiskan.
Tidak tahu soal harus diarahkan kemana dan untuk apa diberikan.

Liburan akan menjelang, apa yang akan diperbuat? Merenungkan perjalanan omong kosong saya selama satu semester yang menyandang SK sertifikasi guru.
Ah, waktu masih bisa kumulai sesuatu yang baru. Memperbaiki diri, memperbaiki cara mengajarku, agar aku tidak malu kelak kalau ditanya Allah akan apa yang aku lakukan.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.