Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 April 2011

Yang Datang dan Yang Pergi


Yang Datang dan Yang Pergi
Oleh: Dra. Eulis Anggia Budiarti, M. Pd.
P
etir terasa menyambar di atas kepalaku, badanku lemas. Gundukan tanah merah ini menjadi saksi yang datang dan yang pergi silih berganti. Air mataku telah habis untuk sebuah kesepian yang tiada ujung.
Lonceng pulang telah berbunyi. Aku berkemas-kemas membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja. Anak-anakpun mulai ribut bak sarang tawon berkemas-kemas pulang. Terdengar lantang sang ketua kelas menyiapkan.
“Siap grak, berdoa dimulai” sejenak kelas terasa sunyi .
“Selesai. Beri salama!!” ketua kelas kembali memberi perintah.
”Terimakasih bu” suara koor anak-anak bergema. Kembali kelas ribut bak sarang tawon.
”Ya, selamat siang!” aku ke luar kelas, diiringi anak muridku. Itulah pekerjaan rutinitasku.
Hujan mengguyur kota Jayapura takhenti-henti sejak seminggu yang lalu. Guru-guru yang membawa payung satu-satu telah meninggalkan sekolah. Tinggal aku dan pace Jarius pejaga sekolah. Sekolah sepi, aku mulai cemas. Wah bagaimana kalau hujan tidak juga berhenti.
”Ibu tidak bawa payung?” pace Jarius memecah kesunyian, karena dari tadi aku hanya diam mematung menatap tetesan air hujan.
”Tidak” jawabku singkat.
”Mau kupinjamkan payung?” tawarnya hati-hati.
”Tidak terima kasih” jawabku singkat pula.
”Hari mulai sore, nanti ibu kemalaman. Sepertinya hujan enggan reda.” pace Jadius mulai mencemaskanku.
”Ibu jalanyah!” aku berkemas meninggalkan sekolah, ketika kulihat hujan mulai mereda.
”Ya bu, hati-hati!” jawabnya mencemaskanku. Tapi aku tidak perduli. Aku lari-lari kecil menerobos rintik hujan yang mereda.
”Sore bu guru, baru pulang yah!” sapa Joy supir bis sekolah dengan mulut merah penuh ludah pinang, ketika berpapasan di gerbang sekolah.
”Yah!” jawabku takperduli.
”Mari saya antarbu, kebetulan kita sejalankan!” tiba-tiba pak Aris menghampiriku dengan motornya. Oh dia belum pulang juga rupanya, dimana tadi, gumanku dalam hati.
”Tidak trimakasih” jawabku sambil terus berjalan.
”Hari sudah mulai sore bu, mobil ke Waena sudah mulai jarang, apa lagi ke Expo mungkin sudah tidak ada lagi ojek. Mari saya antar!” ajaknya sekali lagi.
”Saya jalan saja pak.” tolakku seramah mungkin.
”Kalau begitu biar saya jalan di samping ibu.” katanya lagi dengan sopan.
”Tidak usah pak. Bapak punya keperluan lain. Silahkan duluan.” jawabku tak acuh.
”Tidak bagus, gadis secantik ibu menunggu mobil sendirian di sini. Biar aku tunggu sampai ibu dapat mobil yah!” pintanya memohon.
Aku diam saja tak menjawab, dan rasanya tak perlu juga aku menjawab. Aduh mobil tak kunjung datang. Aku mulai gelisah. Kulihat jam dipergelangan tanganku. Wow sudah jam 5 sore. Sebentar lagi azan magrib.
”Sebentar lagi magrib yah bu, kalau taxsi tak kunjung datang mari saya antar.” tawarnya.
  Aku masih tak menjawab.
”Tiga-tiga!” tiba-tiba sebuah mobil taxsi putih melintas. Uh tiga lagi. Kuacungkan jari telunjukku yang berati satu.
”Satu Expo bang”, pintaku pada supir taxsi agak memelas.
”Maaf mace, penumpang di dalam suh ada ke Perumanas tiga.” jawab supir.
  Aku kembali mematung menanti taxsi berikutnya lewat.
”Ibu, mari saya antar, kita kan sejalan. Hari menjelang magrib. Nanti ibu terlambat shalat magrib.” kata pak Aris menambah kegelisahanku.
Tiba-tiba mobil taxsi putih melintas.
”Satu Expo!” pintaku. Taxsi berhenti, pak supir membukakan pintu.
”Alhamduliliah gumanku dalam hati. Akhirnya ada juga taxsi ke Expo.” aku masuk. Kulihat dari kaca spion pak Aris menjalankan motornya dan berlahan-lahan mengikuti mobil taxsi yang kunaiki.
Sudah cukup lama pak Aris mendekatiku, kalau tidak salah semenjak aku mengajar di SMAN 1 Jayapura ini. Dia sangat sopan dan perhatian. Bukan aku tidak mengerti perhatian-perhatiannya. Namun aku memang tidak membutuhkannya. Aku sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil. Sejak aku mengerti hidup, aku hanya sendiri. Sepi adalah teman setiaku. Ayah dan ibuku entah dimana. Yang aku tahu sejak kecil sampai sekolah dasar aku dirawat kakekku. Kakekku sangat memperhatikan dan melindungiku. Apa-apa yang kuminta selalu dipenuhinya. Kami saling menyayangi, karena kami hidup hanya berdua. Aku kurang mengerti mengapa saat itu pigur nenek tidak ada dalam kehidupan kami. Kakek tidak pernah bercerita tentang nenek dan sepertinya kakek tidak suka bila kutanya tentang nenek.
Menurut cerita kakek pula, ayah dan ibuku meninggal dalam perjalanan pulang naik haji. Kata kakek, ayah dan ibuku sangat menyayangiku. Tapi menurutku tidak. Nyatanya mereka meninggalkanku, saat aku sangat membutuhkan mereka.
Kakekku seorang peneliti, beliau sering pergi ke luar kota untuk urusan penelitiannya. Otomatis aku sering ditinggal sendiri dan aku selalu merasa kesepian. Ketika aku SMP, kakekku meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku sangat terpukul, tidak ada lagi orang yang menyayangiku. Satu-satu mereka meninggalkanku.
Saat itu, oleh teman kakekku aku dititipkan dipanti asuhan. Aku tidak dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan panti, semua kurasa asing dan menyiksa bathinku. Aku selalu menyendiri dan semakin sepi. Karena aku merasa setiap orang yang menyayangiku pasti akan pergi membiarkanku sendiri, sepi dan merana. Lama-lama aku akrab dengan kesendirian. Aku merasa tidak membutuhkan teman. Apapun dapat aku lakukan sendirian. Aku merasa pertemanan hanya akan menimbulkan kesedihan dan luka.
Pertama kali aku mengajar di SMAN 1 Jayapura, pernah aku akrab dengan seorang murid dari Nabire namanya Kiten. Kedekatanku padanya karena didorong oleh naluri seorang pendidik dan tanggung jawab wali kelas. Kiten selalu menyendiri tidak pernah ribut atau bercerita dengan teman lainnya. Dia duduk paling pojok. Suatu waktu kudekati dia ketika ia duduk menyendiri di ruang kelas, sementara teman-teman sekelasnya ribut ke luar kelas beristirahat.
”Kiten, kamu tidak ke luar istirahat?” sapaku pelan.
”Tidak ibu, saya sedang mengerjakan tugas Biologi.” jawabnya sangat sopan untuk ukuran siswa model sekarang.
”Ini PR? Mengapa tidak kau kerjakan di rumah!” kataku agak menegur.
”Maaf ibu, saya tidak punya waktu kerja PR di rumah.” jawabnya pelan.
”Mengapa? Kerjamu main yah!” selidikku.
”Tidak ibu, pulang sekolah saya kerja cari uang untuk makan dan uang sekolah.” jawabnya masih dengan nada sopan.
”Oh, maaf. Ayah dan ibumu?” tanyaku menyelidik.
”Orang tuaku di Nabire. Saya sendirian di Jayapura, untuk sekolah di sini.” katanya.
”Di Jayapura kau tinggal di mana?” tanyaku kemudian.
”Saya buat gubuk-gubuk di lereng gunung dekat UNCEN atas.” jawabnya.
”Apa orang tuamu tidak kirim uang sekolah?” tanyaku hati-hati.
”Tidak ibu, orang tuaku miskin. Beliau bukan pegawai, tapi petani kecil.” jawabnya.
”Loo, kok kamu bisa ke Jayapura. Butuh biaya banyak tuh dari Nabire ke Jayapura. Malah harus naik pesawat kan? Kamu banyak uang dong?” candaku.
”Tidak ibu, waktu itu saya jual babi untuk naik pesawat.” jawabnya.
”Ok, kamu selesaikan dulu PR Biologimu, nanti pulang sekolah kamu temui ibu yah!” kataku sambil meninggalkan kelas.
Semenjak itu aku akrab dengan Kiten. Aku mengagumi kegigihannya mengejar ilmu. Dengan kondisi pas-pasan dan serba keterbatasan Kiten selalu datang ke sekolah tepat waktu. PR yang kuberikan selalu dikerjakan walaupun banyak kelirunya, maklum waktu belajar tersita untuk bekerja. Baju seragam yang dikenakan hanya satu-satunya. Maka aku sering melihatnya kumal dan berbau. Uang sekolah selalu ia bayar walau terlambat dan mencicil. Sebagai wali kelas aku tidak tega melihatnya. Maka kubebaskan dia dari membayar uang sekolah.
Pada suatu sore Kiten datang ke tempat kosku.
”Ibu, ibu su bayar saya pung uang sekolah. Apa yang bisa saya kerjakan untuk ibu.” katanya.
”Tidak ada Kiten, yang ibu mau kamu belajar dengan baik saja.” jawabku.
”Aduh ibu, saya rasa tidak enak. Biar saya babat rumput di depan rumah ibu, kah.” katanya sambil mulai membabat rumput di depan rumah kosku yang memang tidak terurus.
”Kiten hari ini kau ada PR tidak? Sebaiknya kau kerjakan PR saja.” jawabku tidak enak.
”Kebetulan tidak ada ibu.” jawabnya.
Semenjak itu, tiap bulan Kiten datang ke rumah kosku untuk membabat rumput dan memelihara halaman rumah. Dia tanamin dengan bunga-bunga yang katanya cantik. Sambil bekerja Kiten selalu bercerita tentang kampung halamannya. Adat suku bangsanya dan bahasa daerahnya. Itu yang membuat kami semakin akrab.
”Ibu, waktu saya taman SMP, bapakku bilang. Kau mau sekolah ke SMA atau sekolah  ilmu-ilmu gaib.” katanya mulai bercerita lagi.
”Loo, emangnya ada sekolah ilmu-ilmu gaib.” kataku tak percanya.
”Yah ada bu. Kalau kita pilih sekolah ilmu gaib. Kita diantar ke gunung. Di sana ada gurunya. Tapi saya pilih SMA aja, karena saya ingin jadi pegawai negeri saja. Kalau jago ilmu-ilmu gaib, paling kita diangkat jadi panglima perang di kampung. Ah tetap saja sengsara bu.” jelasnya polos.
”Masih ada panglima perang di Nabire? Sekarang tuh zaman sudah merdeka.” kataku.
”Perang suku masih ada bu. Lucunya kalau perang, panah diluncurkan ke atas tidak ke pihak lawan. Kalau kebetulan kena, nah itu lawan emang pung dosa besar. Makanya kena jubi. Ha ha ha.” katanya lucu.
”Kok lucu yah begitu. Bagaimana mau kena kalau panah diluncurkannya ke atas.” kataku.
”Yah, begitulah hukum perang di Nabire.” katanya pula.
Biasanya kami bercerita seru sepanjang Kiten mengerjakan kebun. Namun pada suatu sore, dia datang tergesa-gesa tidak seperti biasanya.
”Ibu, saya bawa singkong dan petatas, ini hasil kebunku. Tapi saya tidak bisa kerja kebun hari ini. Badanku panas meriang.” katanya sambil menggigil. Muka Kiten tampak pucat.
”Badanmu panas Kiten, kau sakit malaria yah.” kataku cemas. Jidatnya ragu-ragu kuraba.
”Iya bu, dari kemarin sore, badanku tidak enak, maaf yah saya tidak bisa kerja.” jawabnya.
”Sudah, kau tidak usah pikir itu. Tunggu ibu ganti baju dulu. Kita kedokteryah.” kataku sambil masuk rumah.
Aku bawa Kiten ke dokter praktek. Dari hasil pemeriksaan darah Kiten terkena malaria tropika positif 3. Dokter menganjurkan untuk dirawat.
”Kiten, kamu harus dirawat, biar ibu yang tanggung biayanya.” jawabku. Kiten hanya diam.
Manusia hanya berusaha, Allah yang menentukan. Kiten muridku juga sahabatku satu-satunya dia pergi untuk selama-lamanya setelah dua hari dirawat di rumah sakit. Kembali aku sendiri.
”Ibu turun dimana?” supir taxsi mengagetkanku.
”Up, maaf di expo, gapura.” jawabku terkejut.
Mobil yang kutumpangi berhenti tepat di depan gapura expo. Aku turun dan membayar ongkosnya. Untuk sampai ke rumah kosku, aku harus naik ojek ke Gg Gelanggang 2. Jika belum terlalu sore aku biasa jalan kaki. Tapi ...
”Ibu, mari saya antar, kita kan tetangga.”  tiba-tiba pak Aris sudah ada di sampingku.
”Trimakasih, saya jalan kaki saja.”  jawabku sambil melangkah.
Pak Aris jalan mengikutiku sambil menuntun sepeda motornya. Aku merasa risi dan malu.
”Bapak duluan saja.” kataku sedikit membentak.
”Saya tidak tega lihat ibu jalan sendirian, ibu mau diboncengkan?.” katanya memohon.
Aku tak menyahut. Cepat-cepat aku melangkah, tampaknya hujan mau turun lagi. Pak Aris mengikuti terus. Akhirnya hujan turun lagi.
”Ayo ibu naik, hujan turun lagi.” katanya memaksa.
Tidak ada pilihan, aku naik diboncengnya. Dia menjalankan motor dengan hati-hati. Namun hatiku takut akan kesepian lagi.
”Sudah sampai bu, cepat keringkan badan ibu. Minum air hangat supaya tidak kena flu.” katanya.
”Yah, trimakasih.” kataku. Aku ganti pakaian, cepat-cepat kukeringkan badanku dengan handuk dan kubuat teh manis untuk menghangatkan tubuhku yang mulai menggigil. Yah begitu saran pak Aris.
Bada isya hujan turun semakin deras. Sambil menunggu kantuk aku membaca beberapa ayat suci Al’ quran.  
”Banjir banjir, bu... bangun bu.... banjir.” suara orang teriak-teriak di luar.
Aku kaget terjaga dari tidur. ”Astagfiruloh halazim, sudah berapa jam aku tertidur di kursi.”
”Banjir banjir, buka pintunya bu, air masuk ...” kembali suara orang teriak-teriak.
Ya Allah ternyata air sudah masuk ke dalam rumahku menggenangi lantai. Basah karpet rumahku, lemari bukuku terendam. Wah baju-baju yang belum sempat kubenahi kini hanyut. Gelas dan piring plasti bekas makan tadi malam kini mengapung menuju ke arahku. Ya Allah ternyata memang banjir. Tiba-tiba ”gedubrak ....” pintu dibuka paksa dari luar. Pak Aris menyeretku ke luar.
”Banjirbu, cepat-cepat kita harus mengungsi. Tanggul di atas roboh.” katanya menjelaskan.
”Ayo pegang pundakku, arus kencang sekali, nanti ibu terbawa arus.” perintahnya.
Aku tidak berkata apa-apa selain mengikutinya.
Banjir besar melanda daerah Expo. Katanya tanggul  raksasa jebol. Masyarakat hiruk pikuk menyelamatkan diri.  Anak-anak berteriak mencari orang tuanya. Orang tua ada yang mencari anaknya, ada pula yang berusaha menyelamatkan harta bendanya. Orang-orang berlarian menuju tempat yang tinggi. Suasana hiruk pikuk dalam kegelapan. Listrik padam karena tiangnya roboh diterjang banjir, bulanpun tidak muncul. Air semakin naik sepinggang, sedada, seleher.
”Ibu kita naik benteng ini. Kita harus menuju tempat yang tinggi.” kata pak Aris. Aku mengangkuk lemah. Badanku menggigil kedinginan, kepalaku pening. Dipegangnya tanganku erat-erat. Ada tenaga yang mengalir lewat tangannya. Aku harus selamat. Tiba-tiba benteng yang kami naiki ambruk. Kami terpelanting, aku terbawa arus banjir.
”Ya Allah aku tidak bisa berenang, selamatkanlah aku.” rintihku. Aku mulai terasa badanku hanyut terbawa arus. Beberapa teguk air banjir terminum. Tenggorokan dan mata terasa pedih. Dalam kegelapan aku tidak dapat melihat apa-apa, selain air di sekelilingku. Aku enggan berteriak minta tolong. Karena kata-kata itu tidak pernah aku ucapkan, selain doa pada Allah. Tiba-tiba tanganku diraih.
”Ibu harus kuatnya, kita akan selamat, pegang pundakku.” suara pak Aris berbisik tepat di sampingku.
”Alhamdulilah.” hanya kata itu yang mampu aku ucapkan. ”Bruk...” sisa-sisa benteng menimpah kami.
”Ya, Allah.” aku dan pak Aris berteriak kaget. Cepat-cepat aku menghindar. Tapi kepala pak Aris tertimpa beton. Kepalanya mengeluarkan darah. Tampa sadar kuraih kepalanya dan kubalut dengan baju hangatku. Entah kekuatan darimana munculnya. Aku membopongnya dan menarik menuju tempat yang tinggi. Di sana sudah banyak orang-orang yang menyelamatkan diri. Aku mencari tempat yang aman dan kubaringkan pak Aris di situ.
Hari mulai siang, ketika regu penyelamat muncul dengan membawa bantuan makanan dan obat-obatan alakadarnya. Aku hanya terpaku memandang pak Aris yang memucat. ”Ya Allah, aku takut kehilangannya. Jangan ambil dia dari sisiku, ketika aku mulai memiliki sahabat.” doaku dalam hati.
Tiem medis dari regu penyelamat menuju ke arahku, dan memeriksa kondisi pak Aris.
”Ibu, istrinya?” tanya dokter.
”Bukan, saya teman gurunya.” jawabku gemetar.
”Ibu, kondisi bapak kritis, kami harus bawa ke rumah sakit.” kata dokter.
”Aku boleh ikut dok?” tanyaku memohon.
Kami membawa pak Aris ke rumah sakit  terdekat. Sepanjang jalan aku hanya memandanginya. Dia sempat memegang tanganku, kemudian pingsan sampai di rumah sakit. Dokter membawanya langsung ke ruang UGD.
”Ibu, ada keluarga terdekatnya pak Aris di sini?” tanya tiem medis yang merawat.
”Maaf, saya tidak tahu dok. Setahuku dia kos di sini. Mungkin atasanku tahu.” jawabku.
”Dia harus segera dioprasi. Tulang kepalanya retak. Surat pernyataannya harus segera ditandatangani keluarganya.” jelas dokter.
Ya Allah, aku menjerit dalam hati. Dia celaka ketika berusaha menolongku. Apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus menandatangani surat pernyataan itu. Tapi bagaimana kalau ada apa-apa, nanti aku disalahkan keluarganya.
”Bagaimana, ibu mau menandatangani suratnya.” kembali dokter menanyaiku.
”Dok, saya bukan keluarganya, saya takut kalau ada apa-apa, nanti saya disalahkan.” kataku.

Aku berusaha menghubungi kepala sekolah. Sekali, dua kali, tiga kali, tidak juga nyambung. Akhirnya aku membuat keputusan.      
”Dok, bisa aku menemuinya.” kataku.
”Silahkan, tapi jangan diajak bicara dulu.” kata dokter.
Aku masuk ruangannya, kulihat dia terbaring lemah. Kuhampiri dan kugenggam tangannya. Dia membuka matanya dan tersenyum, bibirnya bergerak-gerak, namun tidak ada suara yang keluar. Kuanggukan kepalaku dan kularang dia bicara. Tangannya memegangku erat sekali sambil tersenyum dan takbergerak selamanya.
Petir terasa menyambar di atas kepalaku, badanku lemas. Gundukan tanah merah ini menjadi saksi yang datang dan yang pergi silih berganti. Air mataku telah habis untuk sebuah kesepian yang tiada ujung.

Kenangan untuk seorang sahabat

Banjir Air Mataku



Banjir Air Mataku

E
     ntah kenapa, setiap kali saya mendengar kata mimpi selalu saja perut ini mual, melilit, sebal dan mual     mau muntah. Aku alergi dengan kata mimpi. Aku benci mimpi. Tapi entah kenapa kata mimpi selalu saja 
terdengar di mana-mana, di rumahku, di rumah pak RT, di rumah pak RW, di kelas, di kantor, di jalan-jalan, pendek kata kemana saya pergi selalu saja orang-orang bicara masalah mimpi, mimpi dan mimpi. Mimpi jadi presiden, mimpi jadi anggota dewan, mimpi dapat jabatan, mimpi jadi orang kaya, mimpi ngantri minyak tanah, mimpi ngantri minyak goreng. Ada juga yang marah-marah hanya karena mimpi tidak dapat jatah beras raskin. Dan herannya, keributan di rumahku selalu saja diawali dengan kata, “aku tadi mimpi…”
          Bu Mer bermimpi lubang kakusnya membludak.
          “Wah, bu Mer bakal dapat rejeki. Selamat, selamat, selamat, ingat nanti traktir aku yah?” Kata bu Ratna sambil mengguncang-guncang tangan bu Mer, taklupa dengan kerlingan licik penuh arti. Yah, maklumlah bu Mer adalah istri pejabat yang boleh dikatakan emang rejekinya selalu membludak. Entah rejeki yang rejeki, entah rejeki dari 10% proyeknya.
           “Benar bu Mer, waktu paitua1 dapat uang kinerja enam juta, bayangkan enam juta rupiah datang ditanggal tua. Tahu ngga, itu karena aku mimpi kakusku membludak.” Bu Sumi menambah data kebenaran tentang mimpi kakus membludak.
          “Kalau saya mimpi dikejar-kejar ular. Ih pokoknya menakutkan. Itu tandanya mau dapat jodoh. Hi hi hi.” Kata bu Tiur sambil cekikikan, satu-satunya teman guru yang masih lajang di sekolah kami.
          Tapi herannya, sebulan setelah bu Tiur mimpi dikejar-kejar ular, sampailah ditanganku surat undangan pernikahannya. Akal sehatku membantah arti mimpi itu. Semua hanya kebetulan saja. Gerutukku dalam hati. Mimpi itu hanya bunga tidur. Apasih hubungannya mimpi dikejar-kejar ular dengan dapat jodoh. Mual, sebal, melilit perutku mendengarnya.
***
          “Ma bangun ma, shalat subuh berjamaah, ayo!” Paitua mengguncang-guncang kasar tubuhku yang masih lemah dan penat, setelah seharian membuat proposal block grant.
           "Iyah, iyah, kenapah sih?” Aku menggeliat malas.
           Tidak seperti biasanya, doa setelah shalat subuh paitua sangat panjang. Mimpi apa dia semalam sampai harus berdoa sepanjang ini. Walau mulai sebal, perut mual, melilit, aku tidak berani mengusik kekhusuan doanya. Apalagi kudengar suaranya semakin lirih dalam isak.
            “Ma, aku mimpi anak kita bermandikan lumpur. Perasaanku tidak enak nih.”
            “Pa, mimpi itu cuma bunga tidur. ”
            “Mimpi yang ini lain ma. Ini semacam pirasat.”
            “Mimpi yah mimpi, pirasat yah pirasat.”
            “Tidak ma, yang ini mimpinya lain. Jangan salahkan papa kalau ada apa-apa dengan anak kita.” Suamiku mulai emosi.
             “Iya, udah nanti pagi kutelepon anak kita.” Kusudahi pembicaraan tentang mimpi. Karena kalau tidak, biasanya berakhir dengan pertengkaran.
              Aku mulai termakan isu mimpi suamiku. Dengan penuh kuatir kutelepon juga anakku yang sedang mondok di pulau Jawa. Melalui pembicaraan ternyata anakku terkena musibah.      Peristiwa anakku kebanjiran adalah biasa, tidak ada kaitannya dengan mimpi suamiku. Sifatnya  kebetulan saja. Sekarang musim hujan, di mana-mana juga kena banjir. Apasih hubungannya mimpi mandi lumpur dengan kebanjiran. Pasti tidak ada. Mimpi itu hanya bunga tidur.
              “Hem, apa kataku, terbukti mimpikukan. Anak kita kena musibah.”
              “Pa, itu kebetulan saja. Wajarkan kalau pondok anak kita kebanjir, karena sekarang musim hujan. Papa dengar sendiri berita-berita di TV semua tentang banjir. Hampir seluruh daerah di pulau Jawa kebanjiran.” Aku bersusaha tidak percaya dengan mimpi.
              “Iya, tapi mimpi papa itu pertanda, kalau anak kita terkena musibah.”
              “Itu kebetulan saja, pa.” Acuh tak acuh aku menjawab.
              “Hati-hati yah, akupun mimpi tentangmu. Mimpiku buruk tentangmu, ma.” Kata suamiku, dengan nada mengancam.
              “Mimpilah, selagi masih bisa bermimpi. Epen lah!” Aku semakin tak acuh.
              “Kuperingatkan sekali lagi, hati-hati, aku mimpi buruk tentang mama.”
Seperti biasa, aku diam untuk menghindari pertengkaran lebih lanjut tentang mimpi.
***


U
jian Nasional yang cukup menegangkan baru saja usai. Sebagai panitia UN, aku dengan teman-teman merasa lega. Persiapan yang ditempuh selama 4 bulan, mulai dari memberi bimbingan intensif, melakukan try out dua kali, telah berakhir tadi siang dengan lancar dan sukses. Aku dan teman-teman panitia seharusnya merasa lega. Tapi penentuan kelulusan yang ditentukan oleh nilai UN ini, membuat kami berharap-harap cemas. Bukan perasaan lega yang kami dapat, tapi kegelisahan dan ketakutan. Akankah anak didik kami lulus 100%. Tapi apa lacur! Ku sms teman-teman panitia.
           “Lihat berita di MetroTV, 17 guru dan kepala sekolahnya di Deli Serdang tertangkap basah sedang memperbaiki LJK siswa. Mereka dituntut 7 tahun penjara.”
           Sms masuk. “Iyah, aduh kasihan, mereka adalah korban sistem.”
           "Tim sukses, yang tidak sukses.” Satu sms lagi masuk.
           “Perbuatan mereka, dosa tidakyah?” Satu sms kukirim.
           “Yah dosa dong, HARAM.” Jawabnya dalam sms.
           “Kalau saya orang tua murid, saya akan berdemo. Mereka harus dibebaskan. Gimana, kita himpun teman-teman atau ketua PGRI untuk berdemo?” Sms lain.
           “Kayanya masalah ini adalah waktu yang tepat untuk menjalankan rencana kita.”
           “Yah, yah aku setuju.” Jawabku dalam bentuk sms juga.
           “Ada apa dari tadi ta tut ta tut bunyi sms masuk.” Suamiku menyela kesibukanku bersms.
           “Yah, biasa sms hallo met malam keteman-teman.” Jawabku menghindar.
           “Lihat berita di Deli Serdang? Jangan berbuat macam-macam.” Ancamnya, seperti tahu rencana apa yang akan kususun.
           “Hati-hati, aku mimpi tidak baik tentangmu.” Katanya sambil berlalu.
           “Mimpi lagi, mimpi lagi.” Tiba-tiba aku jadi sewot dan jengkel.
           “Et hati-hati, aku cuma mengingatkan, mimpiku buruk tentangmu.”
           “Ah, itu cuma mimpi kosong, tidak akan terbukti.” Tiba-tiba emosiku memuncak.
           “Aku mimpi kamu terseret banjir, tenggelam.” Suamiku menegaskan.
           "Aku tidak percanya.” Ego ilmiahku merasuk jiwaku. Tapi terselip rasa takut yang mencekik. Tiba-tiba aku sakit hati dengan mimpi suamiku. Kata mimpi kini berubah,  bukan saja membuatku sebel, mual dan melilit. Namun kini membuatku jadi gelisah.
            Rencana membuka kebenaran telah lama kami susun, cuma belum ada waktu yang tepat. Sebagai ketua tim penggerak hati nurani –begitu kami menyebut tim kami-, aku harus mengatur strategi. Saat itu, kami akan menjadi pahlawan bagi teman-teman guru. Bayangkan sejak hak guru memberikan penilaian akhir dicabut. Sejak itu pula sekolah kami terpuruk. Sejak itu pula sekolah kami mendapat caci maki kepala dinas. Sejak itu pula telinga kami harus kebal. Sejak itu pula kami harus repot menjelaskan kepada bapak ibu wali murid yang datang dengan parang, tombak dan panah, karena anaknya dinyatakan tidak lulus.
            Nilai UN janganlah dijadikan penentu kelulusan. Serahkanlah kepada kami sebagai gurunya, yang telah tiga tahun memesrainya. Kami sudah lama ikhlas dengan gajih kami yang dikebiri. Uang lauk pauk yang lama tidak dibayar. Yang tidak pernah menikmati uang kinerja seperti pegawai lainnya. Yang nasib sertifikasi gurunya masih terkatung-katung, entah dibayar entah tidak. Tapi tolong janganlah hak kami untuk dapat memberikan penilaian terakhir pun dikebiri. 
             Apa yang dapat kami lakukan jika anak didik kami hanya memiliki semangat, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk bersaing. Mereka sudah cukup bangga bisa pergi ke sekolah. Walaupun mereka cukup repot untuk dapat menyisihkan waktu dari pekerjaan utamanya di ladang dan di kebun. Parang adalah nyawanya, hidupnya. Bagaimana mau kita ganti dengan buku, dengan pinsil, dengan rumus-rumus. Jika untuk mengisi perutnya saja mereka harus berjuang sendiri. Mereka tidak bercita-cita tinggi. Hanya ingin sedikit menaikkan harkat martabatnya sebagai manusia Indonesia yang berpendidikan. Apakah mereka harus jadi korban suatu sistem yang masih banci?     
***
             “Bapak, ibu guru, tolonglah saya!” Suatu hari kepala sekolah mengumpulkan kami.
             “Tahun ini kita harus mampu menaikan jumlah kelulusan.” Lanjutnya.
             “Bapak, kami sudah merencanakan untuk melakukan bimbingan intensif dan melakukan try out.” Wakasek kurikulum menjelaskan.
              “Baik, itu sangat bapak dukung. Tapi adakah cara lain selain itu.”
              “Kita optimis saja, program bimbingan insentif akan berhasil menaikan angka kelulusan.”
              “Baiklah, bapak sangat mendukung. Jangan lupa hasil try outnya sampaikan pada saya.”
              “Pasti bapak.”
Suatu hari, kudengar pembicaraan serius di ruang kerja kepala sekolah.
              “Hasil try out sangat rendah, diperkirakan 30% saja yang dapat lulus.” Seperti suara yang kukenal.
              “Kalau begitu hasilnya, kita siap dicaci maki orang tua murid lagi. Terdengar suara kepala sekolah putus asa.
Bagaimana tidak gagal, banyak orang tua yang protes, karena jam kerja anaknya di ladang berkurang. Wal hasil kegiatan bimbingan intensif hanya diikuti segelintir orang. Apapun bentuknya, pendidikan tidak akan berhasil baik, jika urusan perut belum teratasi.
***
              Kini, aku dan teman-teman tim penggerak hati nurani lainnya menghuni sel tahanan. Mengapa bisa!!
Demo dimulai dengan pembacaan narasi penolakan nilai UN sebagai penentu kelulusan. Isi narasi menyatakan bahwa UN telah banyak menuai kebohongan dan menimbulkan penipuan. Tragedi 17 guru di Deli Serdang tidak akan terjadi, kalau hak guru memberikan penilaian tidak dirampas. Kemudian demo dilanjutkan dengan dramatisasi oleh sebagian guru.
“Coba lihat nilai UN matematika si Mario nilainya 8. Diakan anak yang bodoh dan pemalas.”
            “Yah, nilai UN matematika si Kiten juga dapat 7. Kok bisa yah?”
            “Si Kiten kalau ulangan harian, nilainya tidak pernah melebihi angka 3.”
            "Seharusnya si Kiten tidak boleh lulus. Coba bayangkan, waktu ujian praktek, kami dibuatnya repot.”
            “Repot bagaimana pak Sukar?”
            “Bagaimana tidak repot, 3 kali kuberi dia kesempatan untuk ikut ujian praktek. 3 kali pula dia jawab epenkah2 . Kalau bukan karena bujukan wali kelasnya, malas saya memberi kesempatan keempat.”
            “Nah itulah, dari dulu juga aku tidak setuju, kalau kelulusan ditentukan dengan nilai UN.”
            “Coba lihat nilai UN Marinten, masa dia cuma dapat 5. Dia kan lebih pandai dari Kiten.”
            “Rasanya tidak adil, si Kiten yang bodohnya minta ampun bisa lulus dengan nilai 7. Masa Marinten yang kita tahu kualitas kemampuannya hanya lulus dengan nilai minimal.”           “Sepertinya ada kebocoran soal.”                           
“Yah, yah … soal sudah bocor. Tapi siapa yang membocorkannya?”
            Demo yang tadinya berjalan aman, tertib, tiba-tiba menjadi anarkis. Pembakaran ban-ban sepeda, motor, mobil di mana-mana. Terjadi lempar-lemparan batu, dorong-mendorong antara pendemo dengan aparat keamanan. Aku ikut terseret arus pendemo yang tiba-tiba datang membludak. Akupun heran mengapa jumlah pendemo jadi berlipat-lipat. Terdengar suara yel-yel aneh yang tidak kami rencanakan. Dari mana arahnya, aku tidak tahu persis. Suasana sudah tidak terkendali. Hiruk pikuk tak menentu.
Tiba-tiba suara letusan senjata ditembakan berulang-ulang. Pendemo bubar kocar-kacir menyelamatkan diri. Aku dan tim penggerak hati nurani terpaku ditengah-tengah arus manusia yang melarikan diri. Katanya demo kami ditumpangi. Akhirnya kami diamankan.  
            “Ibu, ibu.” Sipir penjara membuyarkan lamunanku.
            “Suami ibu ingin bertemu, dia menunggu di ruang tamu. Mari saya antar.” Katanya lebih lanjut. Aku mengikutinya hening. Kulihat suamiku bersama anak-anakku telah menunggu. Kakiku tak sanggup lagih melangkah lebih dekat padanya. Perih hatiku, teriris rasa jiwaku, perasaanku turut tercabik-cabik ketika kulihat suamiku, anak-anakku meneteskan airmata untukku.
            “Jangan kau sepelekan arti mimpiku.” Bisiknya pelan ditelingaku.          
Kini mimpi itu menjadi moster yang menakutkan. Tolong selamatkan aku dari banjir air mataku, bajir air mata anak-anakku, banjir air mata ibuku, kakakku, adikku dan tentu banjir air mata suamiku.
                                                           
                                                     Awal bulan Mei 2008
                                      Untuk ke-17 Guru di Deli Serdang. Tabahlah
Keterangan:
1. Paitua                       = suami
2. Epenkah                   = pentingkah

Minggu, 17 April 2011

Waness Perdamaian Kamumi

WANESS PERDAMAIAN KAMUMI

Oleh: Dra. Eulis Anggia Budiarti, M. Pd.

Guru SMAN 1 Jayapura Papua

K

amumi, janda Sawi yang terpaksa merelakan kepalanya digundul plontos duduk gelisah di atas tikar rumput yang tampak usang dimakan usia. Kamumi tidak peduli, ia duduk serius sambil mempermainkan awer rumput tua pembalut bagian bawah tubuhnya yang entah sudah tahun keberapa tidak digantinya. Sekali-kali terlihat matanya menatap kosong jauh ke luar tsjewi, dahinya berkerut seperti berpikir keras mempertimbangkan usulan pimpinan aipem kampung Sawi yang ditemani wow ipit dan kepala perang kepadanya beberapa hari lalu.

Dalam tsjewi tanpak topeng ifi tergeletak di sudut rumah seolah menatap Kamumi menuntut balas. Ocen dan Yemes yang diukir dengan motif tare, worotamo, far, tuwabok, dan vir kini tak bertuan. Semua selalu mengingatkan Kamumi pada suaminya Kagura.

Diangkatnya jepitan usang pengangkat sagu. Dibolak-balik saja sagu yang dipanggang di atas perapian jowse kendati telah cukup matang untuk diangkat, tampaknya ia masih segan untuk meletakkan sagu bakar di atas an. Dari cela-cela dinding tsjewi yang terbuat dari pelepah sagu, ia dapat melihat dengan jelas Wasio anaknya yang gempal bermiyak sedang asik bermain air di atas perahu yang tertambat di tepi sungai Kroket yang keruh. Sementara itu, pimpinan aipem dan dua pimpinan adat lain masih menanti jawabannya.

Kamumi dilanda gelisah yang amat sangat. Putusannya akan menentukan apakah perang suku yang telah melegenda di antara orang-orang Asmat akan diakhiri atau tidak. Ia akan menjadi pencipta legenda baru bagi orang-orang Sawi.

Kamumi meletakkan kembali jepitan kayu itu. Ia tidak pernah berhenti menyesali kematian Kagura suaminya beberapa tahun yang lalu. Kagura yang mati terbunuh karena penghianatan kaum Wasohwi. Kini, ia diminta untuk melakukan perdamaian dengan penduduk kampung yang telah menewaskan suaminya, yang telah membuat dirinya menjadi janda dan selalu harus melicinkan kepala. “Ah… rasanya tidak mungkin,” Kamumi menggumam dalam hati.

Bagi orang Sawi satu nyawa harus dibayar dengan nyawa. Tapi kini kenapa budaya waness berubah fungsi. Kenapa tiga tokoh adat itu memintanya untuk melakukan tuwi asonai man. Kamumi tidak habis mengerti mengapa ia harus melakukan waness seperti ini, disaat kematian Kagura belum terbalas. Pikirannya yang sederhana tidak dapat menerima perubahan yang tiba-tiba.

***

M

arjun menaiki tangga tsjewi pada pintu milik Kamumi dan duduk di tikar daun yang disediakan untuknya. Ia tampak terlihat ramping, kekar, gagah dengan otot-otot yang kencang. Kalung sudafen yang mengkilat dan gelang dari taring babi melingkar di tangan kanannya, menandakan pemakainya seorang yang ahli berburu, dan mahir bertarung. Tampak pula pisau dari tulang kaki burung piswa dan rahang carawan diselipkan di pangkal gelang tangan kirinya. Bipane dari kulit siput tampak menusuk sekat hidungnya. Marjun menghiasi badannya pula. Muka dan badan dicat dengan kapur putih dan merah, rambutnya diberi bulu-bulu burung, kepalanya diberi kulit kuskus.

Marjun menjadi incaran gadis-gadis belia di kampung Sawi. Semua ibu-ibu di Sawi berharap dapat bermenantukan Marjun. Namun, hanya anak gadis Kamumi lah yang dipilih Marjun. Tentu betapa bangganya Kamumi ketika lamarannya untuk Wasio diterima Marjun. Kini Marjun adalah menantunya yang hidup dalam satu jowse dan satu tsjewi dengan Kamumi. Sesuai dengan sistem kekerabatan suku Asmat . Adat telah mengatur, setelah menikah Marjun berada dalam keluarga Wasio. Perkawinan Wasio dan Marjun diatur orang tua mereka. Peminangan dilakukan kerabat pihak Wasio.

Tiga tokoh adat kaum Sawi duduk di hadapan Marjun untuk mengikat perhatian Marjun. Sementara itu, Kamumi tua, jongkok di depan perapian jowse, sibuk membolak balik sagu panggang. Dekat kaki Kamumi terdapat sagu-sagu yang telah matang dipangggang masih terasa hangat di tangan.

Dibawanya sagu-sagu panggang itu untuk disajikan. Ia jongkok di belakang Marjun. Dengan gerakan yang cepat disentuhkannya sagu bakar ke bagian alat vital Marjun sambil berteriak, “Waness….” Suara Kamumi terdengar gemetar menahan rasa.

Kamumi segera melompat mundur menyingkir dari Marjun, kemudia ia berlutut di hadapat Marjun, dan mengangkat sagu panggang itu ke bibirnya, sambil berkata lantang, “Waness….waness.” Digigitnya sagu itu sebagai lambang budaya waness telah diberlakukan Kamumi pada Marjun.

Mata Marjun yang tajam terbelalak kaget melihat Kamumi menggigit sagu panggang itu. Tubuhnya tiba-tiba terasa mengeras bagai binatang buas yang kena perangkap. Kamumi mertua telah menjebaknya dalam ikatan budaya Sawi.

Melalui tindakan nekad itu Kamumi telah mengubah arah nasib Marjun ke jurusan yang masih asing bagi Marjun juga Kamumi sendiri.Tidak ada pilihan lain bagi Kamumi selain mematuhi perintah ketiga tua adat kampung Sawi yang terus-terus datang memaksanya.

*****

“K

amumi, Tuan pemburu buaya akan datang ke kampung Sawi. Menurut cerita kampung lain, Tuan pemburu buaya memiliki banyak benda-benda aneh yang akan dibagikan kepada kita. Tapi Tuan pemburu buaya tidak menyukai peperangan.” panjang lebar pimpinan aipem kampung Sawi menjelaskan. Kemudian, “Tuan pemburu buaya suka damai…. damai...begitu katanya. Kita harus membuat perdamaian. Perang itu tidak baik.”

“Kudengar Marjun telah menyusun rencana untuk melakukan pembalasan atas terbunuhnya Kagura. Kami bukannya sudah melupakan Kagura. Tentu saja kami masih ikut berduka.” tokoh perang suku Sawi yang harismatik melanjutkan.

“Kamumi, kamu tentunya juga sudah tahu dari cerita orang-orang di kampung sebelah, benda-benda yang dibawa Tuan pemburu buaya. Ada pisau dan kapak yang sangat tajam. Ada kayu yang dapat mengeluarkan api tanpa harus digosok keras-keras. Ada lagi yang namanya cermin. Benda itu bisa memperlihatkan wajah kita lebih jelas dari air sungai Kroket.”

“Nah, Kamumi cegalah menantumu itu agar membatalkan rencana penyerangan ke kampung Wasohwi. Kita lakukan perdamaian dengan menyerahkan anak perdamaian. Kita percikan air sejuk antara kita dan kaum Wasohwi. Begitu perintah Tuan pemburu buaya kepada kami,” lanjut pimpinan aipem.

“Apakah Marjun harus menyerahkan anaknya? Dalam perkawinan mereka, mereka belum memiliki keturunan.” Kamumi menjawab kuatir.

“Bukan-bukan itu. ketua perang siap menyerahkan anaknya untuk perdamaian, asal Marjun mengurungkan niatnya. Nanti, kamu akan dapat pisau, cermin dan korek api dari Tuan pemburu buaya. Oh yah, ada juga yang disebut senter yang dapat menerangi kita waktu malam hari.” kata pimpinan aipem membujuk Kamumi.

“Kamumi, aku siap menyerahkan anakku yang kecil sebagai tanda perdamaian dengan kaum Wasohwi. Bagaimana dengan kamu? Kamumi, kamu harus bisa membujuk Marjun.” kepala perang memintanya dengan tegas. Hanya wo ipit yang diam membisu, pikirannya melayang entah kemana. “Tak ada patung embis yang harus kuukir, dan tak ada lagi pesta ulat sagu,” gumamnya dalam hati.

*****

S

edemikian besar kesan pertemuan pertama pemimpin aipem kampung Sawi, kepala perang dan masyarakat Sawi dengan perahu motor patroli Belanda yang melewati sungai Kroket membawa Tuan pemburu buaya yang telah membagi-bagikan senter, garam dan tembakau sebagai alat kontak. Mereka melewati kampung Sawi, sehingga menjadi bahan percakapan hangat selama berminggu-minggu. Hampir semua orang Sawi membicarakannya. Tidak lama kemudian, kampung-kampung itu mendengar desas-desus bahwa patroli yang sama telah mendirikan pos pemerintahan di tengah-tengah suku Asmat di Pirimapun. Bahkan Marjun pun lupa akan rencana pembalasan dendamnya terhadap orang yang dianggap musuh-musuhnya. Tetapi tidak lama. Ingatan mengenai kedua perahu besar itu mulai pudar. Kerinduan untuk membalas dendam kembali menjadi cita-cita utamanya.

Marjun mengundang Maum, Yosin, dan Kaimu ke rumahnya. Ia mengisi pipanya penuh dengan tembakau, lalu menyalakannya, kemudian mengedarkannya kepada teman-temannya. Itulah cara mengikat persahabatan di antara mereka. Sementara asap tembakau yang bau semerbak memenuhi seluruh yeu. Marjun mulai mengutarakan pikirannya.

“Rupanya Tuan pemburu buaya sudah berada di antara kita, tapi kita belum membalas kematian bapak Kagura. Bagaimana perasaan kalian?’

Teman-temannya membisu dengan perasaan malu karena telah melupakan kewajiban itu selama ini.

Marjun kembali berkata, “Mungkin kalian telah lama melupakan bapak Kagura, tetapi aku tidak dapat melupakannya. Menurut pendapatku, kita harus membalaskan dendamnya, meskipun Tuan pemburu buaya sudah datang!”

Marjun mengisap pipanya, sementara ketiga temannya memperhatikan wajahnya. “Apakah engkau menghendaki kita merampok daerah Wasohwi lagi?” Tanya Maum. “Ah, itu sudah sering kita usahakan,” jawab Marjun. “Aku mempunyai cara yang lebih baik lagi.”

Kaimu lah yang pertama menyambut, “Ceritakanlah rencana itu kepada kami, kakak!”

Marjun menunjuk dengan pipanya ke arah Selatan ke arah kampung Sawi yang disebut Kangae. “Orang-orang Kangae,” katanya pelan-pelan. “masih bersaudara dengan para pembunuh bapak Kagura. Bahkan mereka mempunyai beberapa teman di antara penduduk ujung kampung kita. Bukankah itu membuka jalan bagi kita?”

Ketiga pendengarnya tersenyum licik menanggapi ke mana arah pikiran yang sudah jelas itu, tetapi kemudian Yosin dengan mengernyitkan dahinya bertanya, “bagaimana caranya kita menyuruh mereka datang?’

“Kita akan mengumumkan suatu pesta tari-tarian semalam suntuk dan mengirimkan undangan kepada mereka,” jawab Marjun enteng.

“Tetapi siapakah yang akan membawa undangan itu kepada mereka? Memang orang kaum Kangae berteman dengan orang Wasohwi, tetapi mereka tidak biasa berkunjung ke sana. Lagipula pasti mereka menolak untuk bekerja sama dalam hal ini!”

“Saudara-saudara kita dari kaum Kangae tidak boleh mengetahui sesuatu tentang hal ini!” kata Marjun dengan tegas. “Kita harus membiarkan mereka menyangka ini undangan yang sungguh-sungguh. Jika mereka sudah melihat mayat kawan-kawan mereka dari Wasohwi tergolek, mereka akan mengerti sendiri.”

“Lalu siapa yang akan pergi untuk mengundang orang-orang yang kita incar itu datang kepada kita?” tanya Yosin penuh selidik.

“Kamu lupa.” Kata Marjun lambat-lambat, “Seorang anggota keluarga kita mempunyai ikatan kekeluargaan dengan Warsohwi melalui ibunya, sehingga ia bebas kekeluargaan dengan Warsohwi melalui ibunya, sehingga ia bebas berkunjung ke sana?”

Ketiga pendengarnya bersuit keheranan. “Pasti yang kau maksud itu Kiten,” seru Maum, “Bagaimana mungkin kamu membujuk dia untuk menghianati kerabat ibunya sendiri?”

Marjun telah siap dengan jawaban yang telah direncanakan lama sebelumnya. “Memang tidak ada jalan untuk membujuk Kiten melakukan hal ini,” katanya secara terus-terang, lalu ditambahkannya secara berbisik-bisik, “tetapi ada jalan untuk memaksa dia.” Setelah hening sejenak, ia melanjutkan. “Seseorang harus mengenakan ikatan waness kepadanya. Maka ia akan melakukan apa yang kita kehendaki.”

Para pendengar terbelalak karena kagum, kemudian bersuit tanda kagum. Pernahkan seseorang mengusulkan tentang itu? Yaitu menggunakan adat kuno, waness, untuk memaksa seseorang menghianati kerabat ibunya sendiri?

Maun, Kaimu, dan Yosin menyadari bahwa Marjun sedang memperkembangkan adat penghianatan yang kuat pada orang Sawi itu secara halus sekali, melebihi karya nenek moyang mereka yang paling pandai sekalipun. Ini berarti Marjun menjadi pencipta legenda yang ulung dan sekarang mereka diikutsertakan untuk mewujudkan legenda baru itu.

Ketiga orang itu begitu terpukau oleh keunikan usulan Marjun, meskipun keunikannya sangat tergantung pada hasil rencana ini. Memang sudah lama berselang sejak Mauro dari kaum Warsohwi mengalahkan kaum Haenam secara menyedihkan, memanah Kagura serta memakan ketiga temannya. Mungkin orang Wasohwi sendiri sudah lama melupakan kejadian tersebut. Kalaupun belum, mereka tidak akan meyangka bahwa kerabat Kagura masih ingin membalas dendam terhadap Mauro melalui persekutuan gelap melawan Wasohwi. Mereka merasa pasti bahwa teman-teman mereka dari kaun Kangae di Haenam akan memberitahukan tiap bahaya yang mengancam orang Wasohwi. Dan di daerah Haenam dapat mengandalkan Kiten sebagai pelindung mereka. Pasti mereka akan menerima undangan yang disampaikan oleh Kiten secara pribadi. Tidak ada sesuatupun dalam legenda orang Sawi yang mempertimbangkan akan kemungkinan seseorang menghianatai kerabat ibunya sendiri.

Usul utama rencana ini ialah menggunakan adat kuno, waness, untuk memaksa Kiten memberikan bantuannya. Ketiga pendukung itu ingin sekali mengetahui gagasan Marjun bagaimana ia akan melaksanakan ini sebaik-baiknya.

“Kakak ceritakanlah kepada kami, siapakah di antara kami kau rencanakan untuk mengenakan ikanan waness kepada Kiten?” Maum bertanya penasaran dengan rencana Marjun.

Marjun tersenyum bangga, karena mudah sekali mereka masuk ke dalam perangkapnya. Kini Marjun menguasai sepenuhnya perhatian mereka. Dengan hati-hati dan berbisik-bisik ia menjelaskan semua rencananya.

***

N

amun kini, Kamumi telah begitu merendahkan diri di hadapan Marjun dengan memakan sagu panggang yang telah tersentuh alat vital Marjun dan sekaligus melepas budi yang sangat besar kepada Marjun. Apalagi ia mertuanya. Betapa gusarnya Marjun, rencana yang disusun beserta ketiga temannya telah didahului Kamumi kepada dirinya sendiri.

Hanya ada satu cara bagai Marjun untuk membalas budi Kamumi, ia harus melakukan apa saja yang diinginkan Kamumi apapun resikonya. Jika tidak Kamumi akan menanggung malu selama-lamanya. Secara adat, masyarakat akan merasa terhina oleh Marjun. Tentu Kamumi punya permintaan yang luar biasa sehingga menggunakan waness untuk mencapai tujuannya.

“Apa yang ibu kehendaki?” Marjun bertanya dengan wajah lesu.”

“Lakukanlah perdamaian dengan kampung sebelah!” jawab Kamumi tua tidak kalah lesunya.

“Apa ibu?” Marjun merasa tidak percaya dengan pendengarannya. “Apa yang ibu minta barusan?” tanyanya sekali lagi.

“Lakukanlah perdamaian dengan kampung sebelah!” Kamumi mengulang jawaban dengan dingin.

“Ibu… apakah ibu tidak salah bicara… apakah ibu sudah lupa dengan kematian bapak Kagura,” suara Marjun meninggi tetapi masih cara yang sopan. Ia kembali berkata, “Ibu sudah lupa kalau kepala ibu masih dicukur habis? Kita harus melakukan pembalasan ibu… pembalasan bukan perdamaian. Arwah bapak Kagura masih menunggu disempurnakan untuk menuju alam safar. Kita harus melakukan pengayauan untuk menyempurnakan arwah bapak.” Marjun terengah-engah menahan amarah dan emosi yang meluap saat mengenang kematian mertuanya Kagura ditombak Mauro dari kaum Warsohwi.

“Ibu lihatlah! Topeng ifi sudah aku buat dengan sempurna, wo ipit pun telah membuatkan patung arwah” Marjun menunjuk topeng yang tergeletak di sudut tsjewi, di samping topeng ifi tergeletak patung yang mirip wajah Kagura yang menonjolkan tsjemen lambang keberanian dan pembunuh musuh.

“Ibu Kamumi, roh-roh nenek moyang menanti kita menuntut balas. Roh-roh yi-ow di hutan sagu, danau dan sungai akan murka. Kita akan kehilangan ikan-ikan dan binatang buruan. Roh ozbopan pasti mengutuk keluarga kita,” sesak dada Marjun mengingat mertuanya telah gegabah mengambil putusan.

Kamumi menunduk dalam-dalam, tetes air matanya membasahi pipi keriput dimakan usia. Ia usap perlahan dengan tangan kanan kasar dan hitam oleh arang. Tentu ia tidak akan pernah melupakan peristiwa memilukan saat suaminya merangkak menaiki anak tangga rumahnya dengan panah tertancap dipunggung. Sambil mengerang kesakitan, Kagura berusaha menaiki anak-anak tangga rumah yang berjumlah 20 titian. Rupanya Kagura berhasil melarikan diri dari kejaran musuh dengan kondisi terluka parah. Walau akhirnya, Kagura meregang nyawa di depan pintu tsjewi. Kagura meninggal kehabisan darah yang terus menyembur dari luka-lukanya.

Kamumi dilanda keraguan yang menyesakan dada, menghentak-hentak naluri seorang istri, darahnya terasa mengalir deras menuju jantung lewat urat-urat syarafnya. Ditatapnya patung arwah Kagura yang belum sempurna menuntut balas. Perlu ia sempurnakan dengan kepala musuh yang terkayau, perlu disempurnakan dengan darah musuh. Badannya menggigil hebat menahan semua perasaan yang entah apa. Kamumi tidak sanggup menerjemahkannya. Pikirannya terlalu amat sederhana.

Waness … aku telah melepas budi padamu Marjun.” Katanya melemah dan semua menjadi terang. Ia tidak ingat apa yang telah ia katakan. Kamumi tidak menyadari kalau dia lah pencipta perubahan dan pencipta legenda baru di Sawi.

*****

Keterangan:

Kaum Sawi : salah satu bagian dari suku Asmat di sekitar Firimapu, yang memiliki budaya kanibalisme dengan mengayau musuh-musuhnya. Mereka memiliki filsafat digemukan untuk dikayau.

Budaya ini telah hilang sejak munculnya para zending dan misionaris yang mereka sebut Tuan-tuan sekitar tahun 1960-an.

Waness : adat orang Sawi untuk memaksa kerabatnya melakukan apapun dengan cara merendahkan diri.

Caranya, memakan sagu bakar yang telah ditempelkan kepada alat kelamin orang tersebut.

Tuwi asonai man: Pemaksaan kehendak melalui waness

Sudafen : Kalung dari taring babi, yang menjadi ciri khas bahwa pemakainya seorang pemburu ulung.

Boyir : perapian milik klen yang biasanya berada di tengah-tengah rumah jeu yang memisahkan Sawi hilir dan Sawi Udik.

Jeu : Rumah panjang yang dibuat untuk laki-laki. Disebut juga rumah bujang tempat laki-laki Asmat berkumpul merencanakan peperangan dan perdamaian.

Setiap kaum atau klean di Asmat memiliki rumah jeu sendiri-sendiri yang dibangun di tepi sungai.

Pemimpin aipem: pimpinan kampong

Wow ipits : seniman pemahat patung

Po : sayung

Ocen : tombak

Yemes : perisai

An : nampan yang terbuat dari daun sagu

Ifi : topeng keluarga tempat roh bersemayam

Tere : motif ukiran kelelawar

Worotamo : motif ukiran pohon beringin

Far : motif kupu-kupu

Vir : motif tali perut ikan

Tsjemen : alat vital laki-laki pada patung roh nenek moyang

Awer : pakaian wanita yang berbentuk rok terbuat dari rumput

Tsjewi : rumah tempat tinggal keluarga batih. Rumah keluarga yang biasanya didiami oleh satu keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, seorang atau beberapa orang istri, dan anak-anak mereka. Setiap istri memiliki dapur, pintu dan tangga sendiri.

Jowse : perapian pusat dalam kelompok kecil

Bipane : hiasan hidung yang menembus sekat hidung yang terbuat dari dari babi atau siput.

Piswa : pisau dari tulang kaki kasuari

Carawan : pisau yang terbuat dari rahang buaya

Yi-ow : roh penjaga hutan-hutan sagu, danau-danau dan sungai-sungai yang penuh ikan dan hutan-hutan yang penuh binatang buruan.

Ozbopan : roh penghuni beberapa jenis pohon tertentu, gua-gua yang dalam, batu-batu besar yang mempunyai bentuk khusus.